Cerita Dewasa 2015 Cinta Sejati Ibu dan Anak

Cerita Dewasa 2015 Cinta Sejati Ibu dan Anak - www.ceritangentot.top. Sebut saja nama saya Guo Jing. Saya adalah seorang lelaki peranakan Chinese. Kegemaran saya akan cerita-cerita sedarah bermula dari hobi saya browsing di Internet. Pertama kali, seperti halnya anak muda, saya tertarik dengan film-film dewasa. Lama-kelamaan, hanya film membuat saya bosan juga. Akhirnya saya mencari cerita-cerita seru dewasa, di mana saya menjadi tahu situs-situs seperti wiro, nyamuk dlsb. Tidak ketinggalan, situs-situs seperti literotica dan asstr juga menjadi laman web yang sering saya kunjungi. Lambat laun saya menemukan cerita sedarah. Pada mulanya, sepertihalnya orang-orang lain, saya merasa bersalah membacanya, tetapi tidak hanya itu saja yang saya rasakan. Ada perasaan yang lain, yang pada mulanya tidak dapat saya kenali, tetapi akhirnya saya sadari juga. Bahwa ada kenikmatan tersendiri yang saya dapatkan. Hal yang tabu justru membuat sensasi sensual yang saya rasakan menjadi berkali lipat.

Cerita Dewasa 2015 Ngentot Sedarah Ibu dan Anak

cerita dewasa 2015
cerita dewasa 2015
Kegemaran membaca cerita-cerita seperti ini membuat saya berkenalan dengan banyak orang yang juga mempunyai 'fetish' atau obsesi seksual akan hubungan sedarah. Saya ikut dalam suatu forum dari luar negeri berbahasa inggeris di sana. Dan setelah sekian lama saya berbincang-bincang, maka ternyata ada banyak orang indonesia juga yang menjadi member. Dari sinilah kami berbagi cerita. Berhubung saya adalah lelaki, maka fetish saya lebih ditujukan kepada wanita yang memiliki hubungan sedarah. Entah ibu, saudara dan tante. Dan saya bergaul di internet dengan orang yang memiliki fetish yang sama dengan saya.
Dari sinilah saya banyak menuliskan cerita-cerita yang dituturkan oleh teman-teman saya. Ada kisah yang relatif singkat, ada yang memiliki kisah panjang dua generasi, bahkan ada yang lebih dari dua generasi. Berhubung kami tidak pernah bertemu muka, maka saya tidak mengetahui apakah cerita yang mereka tuturkan kepada saya itu adalah kisah nyata ataukah hanya fantasi saja. Cerita-cerita mereka saya upload di forum semprot tentu saja dengan persetujuan sang empunya cerita. Perlu digaris-bawahi di sini, bahwa sebagai penulis, saya mengedit cerita-cerita mereka dengan menambahkan fantasi-fantasi saya sendiri dan menambahkan alur maupun suasana yang membuat kisah mereka lebih dapat dinikmati oleh pembaca. Sehingga, walaupun andaikata cerita yang mereka kisahkan itu adalah kisah nyata, maka setelah saya sunting, cerita tersebut sebenarnya masuk dalam kategori historical fiction. Mirip-mirip novel Dan Brown yang menambahkan fiksi dalam kisah yang sudah tertulis di sejarah. Tetapi tentu saja, historical fiction dari saya adalah history dalam pengertian yang lebih kecil, yaitu sejarah keluarga dari tokoh yang saya tuliskan ceritanya itu.
Sudah ada beberapa yang saya tulis. Dua buah kisah yang panjang belum juga selesai saya sunting dari kisah aslinya. Namun untuk lebih adil, maka saya juga akan memposting sebuah cerita yang tidak ada hubungannya dengan Trilogy Anak-anak Sedarah dan juga Petualangan Si Ari. Cerita yang satu ini lebih singkat, karena sama halnya dengan kisah Akibat Ke Dukun, maka cerita ini pun hanya punya satu Target Operasi, yaitu ibu kandungnya. Semoga cerita ini bisa menambah koleksi para member setia dari forum semprot. Dan bagi para penggemar Ari maupun Keluarga Sedarah, agar bersabar menunggu kelanjutan tiap serial. Bukankah J. K. Rowling menulis 7 buah buku Harry Potter dalam rentang waktu yang lama juga? Menurut pendapat saya, sesuatu dikerjakan perlahan, hasilnya tentu akan lebih baik lagi.
BAB SATU
Namaku Memet. Aku lahir sebagai anak tunggal. Kedua orangtuaku bekerja. Kami tinggal di pinggiran kota Jakarta. Setiap hari, ayahku akan berangkat pagi jam 5.30 pagi menuju kantornya dengan motor. Sementara aku akan dibonceng ibu ke sekolah pada jam setengah tujuh untuk selanjutnya ibu akan bekerja setelah aku didrop di sekolah.
Ritual pagi kami dalam menyambut hari kerja dan hari sekolah adalah sebagai berikut: Ayah akan bangun duluan sekitar jam 4.45, karena ia memang harus berangkat pagi. Ia akan mandi sekitar lima belas menit dan segera membangunkanku untuk mandi pada jam 5 pagi. Saat itu ibu akan bangun waktu ayah bersiap berangkat ke kantor untuk mempersiapkan sarapan dan pakaian ayah. Mereka akan sarapan bersama. Aku biasanya selesai mandi jam lima lewat dua puluh dan bersiap-siap. Aku biasanya turun ke ruang makan jam 5 lewat 30 untuk sarapan. Saat itu ibu biasanya sudah selesai mencuci perabotan atau merapikan dapur. Lalu ibu akan mandi jam 5.35 sampai kurang lebih jam 6. Lalu ibu akan berdandan dan bersiap-siap hingga jam 6.20. Pada pukul 6.30 kami akan berangkat meninggalkan rumah.
Keluarga kami adalah keluarga sederhana dan sopan. Ayah termasuk salah satu orang yang dijadikan panutan dalam hal beribadah oleh para tetangga kami(aku tak akan memberikan detail tentang ini), yang jelas, ayahku terkenal alim. Ibuku juga termasuk ibu yang dianggap alim karena aktif dalam berbagai kegiatan ibu-ibu di kompleks dan juga dalam aktivitas berkeagamaannya. Karena itulah, di dalam rumahku, kesopanan dan adat dijunjung tinggi. Kedua orangtuaku tidak pernah menggunakan kata-kata yang kotor. Belum pernah kudengar mereka mengeluarkan umpatan tentang bagian tubuh atau hubungan intim manusia ketika mereka marah. Paling banter ayahku akan memaki "Semprul!" atau terkadang "Sial!" ataupun makian nama-nama hewan itupun kalau kemarahannya sudah tak bisa dibendung lagi, dan kejadian seperti itu sungguh sangat jarang. Menurutku, bagi mereka, berkata-kata kotor yang saru sangatlah dilarang, karena mungkin bagi mereka hubungan seksual itu adalah sesuatu yang jorok atau sebaiknya dihindari.

Baca juga cerita dewasa terbaru 2015 Kado Istimewa Dari Mama.

Ini kuperhatikan dari fakta bahwa kedua orangtuaku memiliki kamar yang terpisah. Setelah aku mengetahui mengenai seks (itu juga dari pergaulan di sekolah), maka aku barulah mengerti bahwa terkadang di malam hari, terdengar langkah berat ayah dan bunyi pintu kamar ibu dibuka lalu ditutup lagi, itu berarti mereka akan berhubungan seks. Namun frequensi hubungan seks mereka sangatlah jarang. Terlebih lagi, di dalam rumah, tak pernah aku melihat ayah mencium pipi ibu, apalagi bibirnya. Kalau ibu cium tangan ayah, itu tiap hari dilakukan bila ibu pamit untuk pergi ke suatu tempat, atau bila ibu tiba di rumah dan saat itu ayah sudah ada di rumah, atau bila ibu menyambut ayah pulang. Tapi sungguh, hanya itu yang kulihat. Ibu mencium tangan ayah.
Karena itulah, aku belajar segala sesuatu mengenai seks di sekolah dari teman-temanku. Apakah hubungan seks itu, apa saja makian kotor yang ada, bagaimana bayi dilahirkan dan seterusnya dan seterusnya. Aku tidak pernah berani menanyakan apapun mengenai hubungan seks dari kedua orangtuaku. Dan oleh karena pergaulan inilah, minatku untuk mengetahui lebih jauh mengenai keindahan tubuh wanita mulai terpupuk. Hal ini terjadi ketika aku berumur 12 tahun.
Semenjak aku berusia 12 tahun, di saat aku baru kenal seks, aku menjadi lebih memperhatikan ibuku. Ibuku adalah wanita karir yang menjaga tubuhnya dengan baik. Ibuku tingginya sekitar 160 cm. Kulitnya putih dan tubuhnya kurus. Ibu memiliki dada yang agak besar, namun tidak terlalu besar. Ukuran bra-nya 34B setelah ku gratak lemari pakaian ibu ketika tidak ada orang di rumah. Aku memang sangat terobsesi dengan kecantikan dan keseksian tubuh ibuku. Sungguhlah sesuatu yang aneh bagiku, karena ayahku sendiri adalah seorang lelaki yang pendek, tingginya hanya sekitar 155 cm, bertubuh gemuk. Walaupun wajahnya lumayan ganteng, tetapi kalau ibu dan ayah berjalan, terlihat lucu juga. Untung saja aku tidak sependek ayah, mungkin gen yang mempengaruhi tinggi badanku didapatkan dari ibu. Tinggiku saat aku kelas 2 SMP, saat aku mulai berhubungan dengan ibu adalah 158 cm. Saat aku bercerita mengenai kisahku kepada bro Guo Jing, aku berusia 30 tahun dan tinggal bersama ibu di suatu kota di luar pulau Jawa sebagai suami isteri. Orang-orang hanya tahu bahwa kami pasangan beda usia 17 tahun dengan memiliki tiga orang anak.
Berbeda dengan cerita-cerita khayalan lain di mana sang anak selalu berhasil menghamili ibunya pada saat mereka berhubungan badan pertama kali, aku menghamili ibu saat aku berusia 24 tahun. Ibu selalu memakai kontrasepsi semenjak sebelum berhubungan denganku, karena waktu itu, ia tidak mau memiliki anak dengan ayah karena hubungan ibu dan ayahku tidak harmonis lagi. Ibu terus memakai kontrasepsi sampai akhirnya aku tamat kuliah. Sebenarnya aku ingin menghamili ibu dari pertama kali kami berhubungan, tapi ibu tidak mau dihamili anak sekolahan dan juga, dia bilang bila ingin menghamili ibu, aku harus serius belajar agar cepat lulus. Pada usia 22 setengah tahun, aku merampungkan S1 ku lebih cepat, karena aku mengambil banyak SKS. Pada usia 23 tahun aku mendapatkan pekerjaan di luar kota, kami pindah.
Karena aku ingin sekali menikahi ibu secara legal, aku mengurus surat-surat identitas ibu lewat suatu perusahaan gelap. Walaupun ayah terus menyantuniku selama aku kuliah, dan ibu tetap bekerja sehingga kami punya simpanan di bank, tapi mengurus identitas baru untuk ibu adalah suatu hal yang sangat susah dan mahal. Untung saja di internet aku bertemu kawan-kawan yang juga memiliki hubungan sedarah. Ternyata ada perkumpulan rahasia yang membantu pasangan sedarah yang kesulitan seperti kami. Dari kawan baruku yang akhirnya aku percayai, namanya sebut saja Guo Jing, aku dikenalkan kepada beberapa temannya yang ternyata adalah pengusaha-pengusaha sukses, ada pejabat juga, bahkan ada paranormal segala. Mula-mula aku skeptis dan curiga. Jangan-jangan mereka adalah jaringan bisnis porno yang menginginkan sesuatu dari aku dan ibu. Tapi semuanya ternyata berjalan dengan baik. Bahkan aku ditawari kerja oleh, sebut saja Pak Febri, seorang pengusaha tambang di Kalimantan yang memiliki beberapa isteri yang ternyata semuanya ada hubungan darah dengannya. Ada sedikit kecemburuanku pada bosku itu, bukan aku cemburu secara personal, tetapi karena ia memiliki banyak keluarga, banyak yang bisa ia nikahi. Tetapi, di lain pihak, aku dan ibuku menjadi sangat dekat dan adalah soulmate yang tak terpisahkan.
Pada saat aku berusia 24 tahun dan ibu 41 tahun, kami menikah di Kalimantan, pernikahan sederhana yang dihadiri bosku dan beberapa kawan dari komunitas rahasia kami, saudara 'ketemu gede'ku, Guo Jing juga hadir sebagai saksi. Setahun kemudian anak pertama kami lahir. Aku sering menggoda ibu dengan mengatakan padanya bahwa aku telah memberikan cucu kepada ibuku dan ibu selalu tertawa dan biasanya kami akan mengalami persenggamaan yang penuh gairah setelahnya.
Kembali ke pengalamanku waktu aku berusia 12 tahun. Aku selalu berusaha untuk dekat dengan ibu saat ia sedang bersiap di kantornya. Aku mulai belagak kebelet dan menunggu di depan kamar mandi sampai ibu keluar dari situ. Ia pertama kali kaget dan bertanya, aku bilang kebelet sambil mencuri-curi pandang tubuhnya yang seksi itu. Lalu aku masuk kamar mandi lalu pura-pura buang air besar. Pertama kali lihat pemandangan tubuh ibuku berbalut handuk, membuatku nafsu sehingga aku segera masturbasi setelah menguci pintu kamar mandi. Ada rasa syok melihat ibu hanya berhanduk dan menyadari bahwa di balik handuk itu beliau tidak memakai apa-apa membuat nafsuku bagai mau memecahkan kepalaku. Mulai saat itu ritualku bertambah satu lagi. Yaitu menunggu ibu keluar kamar mandi untuk melihat tubuhnya yang sedikit lembap karena air yang terlihat sangat menggairahkan bagiku, untuk kemudian melakukan onani di kamar mandi.
Ritual tambahan ini berlangsung selama beberapa minggu sampai aku merasa bosan dan ingin melihat lebih jauh lagi. Aku ingin melihat ibu telanjang bulat saat mandi! Maka aku menyiapkan rencana agar kali ini aku masuk kamar mandi saat ibu sedang mandi dan mengaku kebelet. Toh sudah lama aku selalu pura-pura sakit perut tiap pagi setelah ibu mandi dan kenapa tidak aku coba untuk memajukan jam sakit perut?.

Baca juga cerita dewasa terkini 2015 Menjadi Budak Nafsu Tante Girang.

Maka aku mencobanya. Percobaan pertama gagal, karena pintunya dikunci. Selama beberapa waktu, aku tidak berani mencoba lagi. Pada percobaan kedua, aku meraih gagang pintu dan mencoba memutarnya ternyata tidak terkunci. Antara takut dan tidak, aku bergulat dengan pikiranku sendiri mencoba memutuskan apakah aku berani melakukannya? Akhirnya saat itu aku tidak melanjutkan usahaku. Terutama karena aku berpikir bahwa bila aku bilang ibu bahwa aku kebelet dan ternyata tidak buang air bukankah akan dimarahi? Oleh karena itu, aku mulai melatih untuk buang air tiap pagi saat aku mandi, walaupun sebelumnya tidak pernah, namun kuncinya adalah makan malam harus dibanyaki dan juga minum air putih. Lalu aku mulai nongkrong tiap pagi. Setelah beberapa minggu, maka aku terbiasa untuk buang air besar tiap pagi. Setelah itu aku mulai percaya diri.
Pada percobaan ketiga, pintu terkunci. Aku gagal lagi. Berkali-kali aku mencoba, namun tidak pernah berhasil. Entah pada percobaan ke berapa, aku tidak ingat lagi, aku dengan setengah hati mencoba memutar kenop pintu, dan ternyata kali ini tidak terkunci! Sayangnya aku melakukan percobaan ini padahal ibu sudah cukup lama mandi, maklum aku saat itu agak skeptis, dan percobaanku ini lebih ke iseng saja, dan aku dengar suara ibu sedang gosok gigi, aku penasaran apakah ibu gosok gigi dengan tanpa busana ataukah tidak? Dengan menetapkan hati, aku memasang muka orang kebelet dan lalu tiba-tiba membuka pintu dan berkata agak kencang,
"Buuuu..... Memeeet sakit peruuuuuttt....."
Ibu sedang menggosok gigi, dan dengan kecewa kulihat ia memakai handuk. Dapat kulihat dua payudara ibu yang terbungkus handuknya, bulat dan tampak tegak. Payudaranya berukuran sedang sehingga masih terlihat ada jarak di antara 2 bukitnya yang indah yang terlihat mengintip dari balik handuk yang membalut tubuhnya yang ramping dan agak basah membuat kulitnya yang putih bersinar ketika terpapar sinar matahari yang masuk lewat jendela kamar mandi.
Tidak ada cacat di sekujur tubuh ibu yang mulus itu. Bau harum sabun cair yang dipakainya semerbak memenuhi kamarku. Aku sudah akil baliq dan selalu bangun dengan kondisi burung yang keras, dengan melihat pemandangan indah tubuh wanita yang mengandung dan melahirkanku itu, burungku jadi berdenyut-denyut. Wajah ibu walaupun tidak bisa disamakan dengan artis ibu kota, tetapi wajahnya sangat cantik bagiku. Hidungnya yang sedikit betet menghiasi wajahnya yang tirus dan melancip di dagu kecilnya, matanya yang sedikit belo dengan alis tipis memanjang, dihiasi oleh lesung pipit kecil yang mengapit bibirnya yang tipis, menambah kecantikan ibuku. Ibuku adalah wanita ideal bagiku, bahkan sampai sekarang ketika aku sudah dewasa. Di usianya yang saat itu 32 tahun, ibu tampak seperti perempuan dalam usia 20 tahunan saja. Betapa bahagianya ayahku.
Setelah itu aku menjadi tidak berani lagi, karena aku melihat wajah ibu yang setengah syok setengah marah ketika aku masuk kamar mandi tiba-tiba. Untung saja aku sudah punya alasan, sehingga wajah ibu tidak menunjukkan kemarahan lagi. Jadi, aku memutuskan untuk play safe dan ritualku kembali menunggu setelah ibuku selesai mandi dan aku sempat mencuri pandang tubuhnya, aku akan bergegas ke kamar mandi dan mulai melakukan sex swalayan, alias masturbasi sambil membayangkan kemolekan tubuh ibu kandungku itu. Terkadang ketika kudengar ia gosok gigi, aku akan ketok-ketok dulu, ibu akan membuka pintu dan menyuruhku menunggu sebentar, sehingga aku dapat sedikit lebih lama lagi memperhatikan tubuh moleknya, sebelum kamar mandi kukuasai sesudahnya.

Baca juga cerita ngentot 2015 Kusetubuhi Ibu Bos di Kantor.

Bulan-bulan awal aku masturbasi secara biasa di kamar mandi. Namun, beberapa bulan kemudian, aku menyadari bahwa celana dalam dan BH milik ibu yand dipakai sebelum mandi tentu ditaruh di keranjang baju kotor di kamar mandi. Aku mulai memakai celana dalam dan BH bekas pakai milik ibu sebagai bahan masturbasi. Bagian dalam dari kancut ibu di mana memeknya menempel, kuendus-endus sehingga aku tahu aroma kemaluan ibuku. Dan ternyata bau memek ibu sangat mantap tercium di hidungku, bau memeknya adalah campuran antara bau pesing dengan bau lain yang kuyakin adalah bau tubuh ibu beserta bau cairan kemaluannya itu. Bhnya pun kuendusi agar aku dapat mengetahui bau tubuh ibu. Walaupun baunya tak setajam bau vagina ibu. Sehingga, waktu masturbasi, celana dalam ibu aku jadikan bahan untuk kuendus, kucium dan jilati, sementara BH ibu yang halus dan lembut kujadikan alat membungkus kontolku ketika aku mengocok penis. Sambil duduk di closet, aku asyik mengocok penisku yang diselimuti BH ibu, sementara celana dalamnya kugenggam dan ku endus-endus dengan penuh nafsu. Seringkali bagian selangkangan celana dalam ibu tercetak cairan kekuningan yang kuyakin adalah campuran sedikit air kencing ibu, keringat ibu dan air pelumas vaginanya. Seringkali aku membenamkan wajah di bagian selangkangan itu lalu menggosoknya sekujur wajahku sambil membayangkan bila suatu saat aku dapat langsung melakukannya di memek ibu. Seringkali aku hanya menghisap tanpa henti noda kuning di celana dalam ibu sambil mengocok penisku yang berlapis BH ibu dengan penuh nafsu. Aku selalu ejakulasi di bagian dalam salah satu cup BH ibu.
Orang-orang bilang, seorang lelaki akan selalu mencari perempuan yang mirip dengan ibunya, dan aku sangat setuju. Ibu adalah orang yang merawat kita dari kecil, memberikan cintanya yang tulus kepada kita tanpa minta balasan. Tentu saja cinta seperti ini adalah cinta yang akan menghasilkan rasa terimakasih dari orang yang menerimanya. Sebagai anak, sejalan dengan waktu, kita akan tumbuh dengan mencintainya juga. Namun, aku merasakan bahwa selain aku mencintai ibuku sebagai seorang anak, aku juga mulai mencintainya sebagai seorang lelaki mencintai seorang perempuan.
Tentu saja, pada usiaku yang masih sedikit itu, aku tidak mengetahui pasti apa yang aku rasakan. Yang aku mengerti bahwa, aku sangat menyukai memandang tubuh ibu dan kemudian mengocok burungku sambil membayangkan tubuh ibu itu. Aku membayangkan bagaimana rasanya bila aku dapat meraba sekujur tubuh ibu yang seksi itu. Bagaimanakah bentuk payudaranya tanpa ditutupi apapun. Bagaimanakah bentuk kemaluan ibuku bila telanjang. Bagaimanakah rasanya kulit ibu yang putih dan halus itu bila aku jilat dengan lidahku ini?

Baca juga cerita seks 2015 Ngetotin Janda Binal.

Hanya saja, saat itu aku sudah puas dengan hanya melihat dan membayangkan. Tidak lebih. Ada rasa takut sebagai anak kecil untuk melakukan lebih jauh. Takut kepada ibu, terlebih takut kepada ayahku. Apa jadinya nanti bila ayahku tahu apa yang ada di otakku? Bisa-bisa habis aku dihajarnya. Atau bisa saja aku diusir dari rumah karena aku adalah anak dengan otak yang kotor yang menginginkan ibu kandungnya sendiri.
Saat ibu selesai mandi, ibu akan mempersiapkan diri untuk kerja di kamarnya dan ibu biasanya akan buru-buru. Dia akan berpakaian seadanya dulu dan kemudian mondar-mandir sekeliling rumah, entah ke kamar mandi, entah balik lagi ke kamar tidurnya untuk menyiapkan segala sesuatu dengan hanya menggunakan bra, cd dan rok dalam. Di saat ini, aku akan selalu menatap tubuh setengah telanjangnya yang putih dan seksi itu tanpa berhenti. Aku juga akan selalu mencari alasan untuk berada dekat-dekat dengannya, memperhatikannya berdandan yang dilakukannya cukup lama, sekitar seperempat jam, kemudian dia akan menata rambutnya yang memakan waktu lima menit. Aku akan berusaha mengajaknya berbicara hal-hal mengenai pelajaran atau apapun yang ada di dalam pikiranku sambil mencuri-curi pandang tubuhnya yang seksi dan molek itu, terutama sekali aku menyukai payudaranya yang bentuknya proporsional sekali menghiasi silhouette tubuhnya yang ramping. Dua gundukan yang mancung dengan sebuah lembah yang memisahkan keduanya dengan begitu apik dan sensual.
Jam setengah tujuh ibu selesai bersiap-siap. Dan aku juga bersiap-siap untuk ke sekolah. Ibuku mengantarku tiap hari menggunakan motor maticnya, kala aku kelas 3 SD aku mulai malu datang ke sekolah bersama ibu, namun mulai kelas 6, aku tidak peduli lagi. Ibu selalu menyuruh aku untuk memeluk ibu dari belakang, maka dengan antusias aku memeluknya erat-erat. Wangi parfum ibu membuat burungku sepanjang perjalanan menjadi keras bagaikan batu. Aku harus berhati-hati agar burungku tidak menempel di pantat ibu. Inilah salah satu dari empat hal yang paling kusuka di pagi hari. Hal pertama adalah melihat ibu dengan handuk, hal kedua adalah masturbasi, hal ketiga adalah melihat ibu berdandan dan hal terakhir adalah berboncengan dengan ibu saat ia mengantarku ke sekolah.
Demikianlah ritual pagi yang aku lakukan selama tiga tahun. Di mulai dari aku kelas 6 SD sehingga kemudian aku duduk di kelas 2 SMP. Saat itu aku berusia 14 tahun dan ibu berusia 34 tahun. BAB DUA
Selama dua tahun itu, aku adalah anak yang mesum. Otakku dipenuhi birahi kepada ibuku sendiri. Apalagi ibu mulai ikut aerobik ketika aku masuk SMP, pinggangnya makin ramping dan perutnya makin rata saja. Saat ia memakai dalaman saja waktu berdandan, aku dapat melihat bahwa tubuhnya mulai berbentuk perlahan-lahan. Pada saat aku kelas 2 SMP, body ibuku walaupun ramping namun mulai berbentuk. Hampir seperti model swimsuit di majalah. Aku semakin lama semakin tidak puas hanya memandang dan berfantasi mengenai ibu. Perlahan aku mulai dapat memahami bahwa cintaku terhadap ibu kini lebih meluas lagi. Aku tidak hanya mencintainya sebagai seorang anak, tetapi aku mulai melihat ibu sebagai lawan jenis, dan aku mempunyai hasrat besar untuk dapat mengawini ibuku. Hasrat yang sudah dimiliki seorang manusia semenjak jaman purbakala. Hasrat yang dimiliki juga oleh binatang. Dan karena binatang kadang mengawini ibunya sendiri, maka aku menjadi iri kepada binatang yang tidak memiliki peraturan dan norma di alam liar.

Baca juga cerita ngentot dewasa Hangatnya Tubuh Ibu Mertua.

Dalam kurun waktu itu juga, sahabatku mengajarkan kepadaku teknik untuk mengurut penisku menggunakan minyak yang entah dia bawa dari mana, dia tidak mau bilang. Dia bilang teknik itu dapat membantuku agar burungku menjadi besar dan gagah. Biasanya ia bermain ke rumahku, dan kami biasanya membuka buku porno atau majalah dewasa, yang entah dia dapat dari mana juga, untuk bermasturbasi membayangkan cewek-cewek yang ada di buku atau majalah itu. Sebenarnya aku tidak percaya, tetapi dia menunjukkan burungnya padaku dan memang lebih besar dari burungku, padahal kami memiliki postur tubuh yang sama. Dia bilang, cewek itu suka barang cowok yang besar. Jadi nyesel kalau aku tidak ikut memperbesar kemaluanku seperti dia. Akhirnya aku menurut saja dan tiap hari ketika pulang sekolah, aku mengurut penisku dengan atau tanpa temanku itu.
Di kemudian hari aku mengetahui bahwa ibu temanku itu adalah orang pintar yang pekerjaannya khusus mengurut alat vital pria agar lebih besar. Sejenis Mak Erot-lah. Itulah mengapa ia tidak pernah mengajakku ke rumahnya. Karena walaupun rumahnya besar, tapi ia malu kalau ada temannya yang melihat plang nama ibunya di depan rumah yang bertuliskan, "Dini Dyah Pitaloka, ahli perbesar alat vital dan mencegah ejakulasi dini".
Ketika aku kelas 2 SMP, alat vitalku sudah sepanjang 17 senti, entah kenapa temanku kalah dariku. Ia malah hanya sekitar 15 senti saja. Kata temanku itu, sebut saja namanya Sam, tergantung bakat keturunan. Aku sendiri tidak begitu percaya, karena dulu waktu masih kecil aku pernah mandi bareng ayah dan milik ayahku jauh lebih kecil dari milikku saat aku 2 SMP. Atau mungkin gen ini dibawa dari sisi ibu, bukan dari sisi keluarga ayah. Dan saat itu pun tinggiku sudah mencapi 158 cm. Sudah hampir setinggi ibu. Mungkin saja urusan urut penis menyebabkan tinggiku juga bertambah dengan tidak normal. Entahlah.
Mulai saat itu, aku mulai berfikiran untuk merealisasikan segala angan-anganku selama dua tahun ke belakang. Aku senantiasa mengingat kemolekan tubuh ibu, dari membayangkan berubah menjadi pengharapan dan akhirnya menjadi obsesi. Apakah yang harus kulakukan agar segala impianku dapat tercapai? Lebih dari sekali aku berdiri di depan kamar mandi lalu masuk ke dalam saat ia gosok gigi dan berniat untuk membuka pintu itu lalu mengutarakan maksudku kepada ibu. Tetapi aku selalu mengurungkan niatku karena aku masih takut. Aku selalu bilang aku sakit perut. Yang menjadi satu hal yang positif adalah, sudah beberapa minggu belakangan, pintu kamar mandi tak pernah lagi dikunci ibu. Mungkin ia merasa bahwa ini adalah kebiasaanku dan karena aku memang tulus sedang kebelet, sehingga ia tidak mengunci lagi kamar mandi.
Selain itu, aku selalu masuk kamar tidur ibu saat ia berdandan. Aku selalu mencari alasan-alasan. Salah satunya adalah mencari buku pelajaranku. Di rumah ini, kamar yang ada AC adalah kamar ayah dan ibu, sehingga aku sering tidur siang di situ. Aku selalu bawa buku pelajaran dan dengan sengaja menaruhnya di tempat yang tidak terlihat langsung, sehingga aku ada alasan untuk masuk dan melihat tubuh ibu. Kadang aku hanya ingin bicara saja, alasanku kepadanya dan ibu tidak terlalu memikirkannya, karena sedang buru-buru untuk bersiap ke kantor, dan mungkin juga karena aku anaknya, ia tidak terlalu ambil pusing.
Pada waktu itu, aku tidak hanya puas dengan masturbasi di pagi hari menggunakan celana dalam ibu. Aku mulai mencuri celana dalam ibu, agar tiap saat aku horny aku akan menggunakannya di kamarku. Celana dalam yang kucuri itu tidak ku jilati, agar bau memek ibu tidak berkurang. Aku hanya mengendus-endus dan menggosokan wajahku di bagian selangkangan, sementara aku masturbasi. Sehari kemudian aku akan mencuri kembali satu celana dalam, sehingga pada tiap harinya aku akan punya 2 celana dalam ibu dan satu BH. Ibu memang punya banyak celana dalam dan BH yang sehari diganti dua kali, yaitu tiap ia mandi. Hari ketiga, aku akan mengembalikan satu celana dalam ke keranjang kotor dan mengambil satu yang lebih fresh lagi.
Saat dua celana dalam aku miliki, aku akan menggunakan satu celana dalam yang sudah seharian aku pakai sebagai pembungkus kontolku, sementara celana dalam yang fresh kupakai di wajahku. Aku selalu menyembunyikan celana dalam-celana dalam curian itu di dalam lemari bukuku, dalam ATLAS yang besar, dengan plastik kedap udara yang sudah aku beli untuk menjaga bau memek ibu agar sebisa mungkin fresh.
Suatu ketika, pada pagi hari, sebelum aku masturbasi, aku seperti biasa menunggu agak lama sehingga bila sudah waktunya ibu gosok gigi, aku lalu ketok-ketok pintu. Hari itu ibu membuka pintu dan seperti biasa menyuruhku menunggu dengan mengangkat tangannya. Setelah ia membilas mulut, ia berkata,
"Lain kali masuk aja langsung deh. Biar cepet. Ibu buru-buru. Capek juga harus buka kunci, terus pintunya."
Aku menjadi girang. Sempat aku berfikir, ketika ibu mandi aku langsung saja masuk, tapi aku berkeputusan untuk melakukannya nanti saja. Jangan langsung. Nanti mencurigakan. Maka untuk beberapa hari, aku selalu masuk tanpa mengetuk pintu, menunggu ibu selesai gosok gigi, lalu mengunci pintu untuk melanjutkan masturbasi di kamar mandi dengan pakaian dalam fresh ibu yang akan kucuri selanjutnya, sementara celana dalam dua hari yang lalu kukembalikan, tentu saja dengan dijadikan tatakan spermaku terlebih dahulu.

Baca juga cerita Istri Selingkuh Dengan Temanku.

Seminggu kemudian, adalah hari yang tak terlupakan bagiku. Saat kudengar ibu gosok gigi, aku langsung masuk, namun menemukan ibu telanjang bulat! Ibu sedikit kaget, namun melambaikan tangan padaku seperti biasa agar aku menunggu. Sementara, dalam keadaan setengah syok aku memperhatikan tubuh telanjang ibu yang ternyata sangat seksi dan melebihi bayanganku sebelumnya.
Memang kutahu tetek ibu besar bila melihatnya saat hanya memakai BH, namun aku membayangkan bahwa tetek itu bila terlepas dari BH nya, akan jatuh ke bawah tanpa dukungan BH dan akan memperlihatkan payudara yang sudah mengendur seperti bayanganku bila melihat foto-foto wanita stw di internet. Tetapi tidak demikian dengan kedua tetek seksi ibuku. Kedua tetek ibu hampir bulat di bagian yang membulat, dan pentilnya tidak jatuh ke bawah, melainkan tegak hampir di tengah dan pentilnya tidak sebesar yang kubayangkan. Pentilnya yang coklat mengacung tegak seukuran setengah kelingkingku waktu itu dengan bagian areola yang berwarna lebih gelap dari putingnya sedikit lebih besar dari rautan pensil bulat dengan kaca model tahun 90an. Sementara ada lembah dalam di antara dua tetek ibu yang mancung dan menggairahkan itu. Tubuhnya masih basah karena sepertinya belum handukan, menyebabkan kilauan air terkena cahaya lampu seakan menyihirku dalam keindahan lekuk tubuh ibu yang sangat sempurna. Apalagi perutnya, walau bukan perut six pack dan terlihat memiliki beberapa lipatan kecil, tidaklah buncit. Apalagi area selangkangannya yang penuh dengan jembut yang ikal dan hitam.
Aku terpesona dan bagai tersihir dan baru menyadari bahwa ibu sedang memanggil-manggil namaku.
"Memet! Kamu kayak orang bego aja bengong di situ. Ambilkan handuk ibu di lemari dulu. Handuk ibu tadi jatuh."
Aku bergegas lari ke atas tanpa menutup pintu lalu sekejap sudah kembali dengan handuk di tangan. Ketika di depan pintu aku berjalan lambat-lambat. Dari luar aku melihat pintu masih terbuka dan terdengar bunyi ibu menyiram air dengan gayung ke tubuhnya. Mungkin ia kedinginan dan tidak ingin masuk angin sehingga menyiramkan air.
Berhubung bak mandinya di hadapan pintu jadi aku melihat ibu dari belakang. Tubuh belakang ibu yang putih juga tampak sangat indah. Tampak tonjolan belikatnya menghiasi punggung ramping tapi tidak kurus, menunjukkan otot punggung yang indah yang menurun menuju pantat yang sungguh sekal dan bulat dengan lipatan pantat yang begitu rapat sehingga tidak dapat melihat apa-apa di baliknya. Paha dan betisnya yang putih tidak tampak kurus, tetapi berisi namun ramping. Lama juga aku di situ.
Ibu membalikkan badan setelah dua atau tiga menit dan melihatku sedang menjelajahi tubuh telanjangnya. Ia menaruh gayung lalu perlahan mendekatiku yang di depan pintu. Ibu tidak mengatakan apa-apa hanya menjulurkan tangan kanannya, lalu aku memberikan handuk. Dalam proses itu entah kenapa aku tak malu-malu menatapi kedua toketnya kemudian jembutnya bolak-balik berusaha mengingat-ingat lekuk yang begitu sempurna.
Mataku menatap matanya dengan tidak sengaja, kulihat alisnya agak terangkat tanda ia seakan bertanya 'apa lihat-lihat?' tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia handukan sambil terus melihat aku. Aku yang merasa di atas angin menjelajahi lagi tubuh ibu yang molek itu. Ketika ia menggosok ketiaknya, aku melihat bahwa ketiak ibu ternyata memiliki rambut yang jarang-jarang. Membuat kontolku makin saja mengeras. Kuperhatikan ibu menghanduki ketiak sebelahnya, lalu tangannya, lalu dada dan kedua payudaranya, menuju perut dan kemudian beberapa saat jembut dan memeknya, sebelum ia menghanduki kedua kakinya.
Gerakan ibu tidak cepat juga tidak lambat. Biasa saja. Namun ia tidak tergesa-gesa. Baru kemudian ia menggosok punggungnya dengan menaruh handuk dibelakang dan dipegang dengan kedua tangan kiri di atas kepala dan tangan kanan disamping badan. Agak lama juga, bahkan badannya agak melengkung kedepan agar punggungnya dapat terkena handuk dengan baik. Kemudian ia ganti tangan kanan di atas lalu tangan kiri di samping badan, dengan waktu yang sama dengan sebelumnya. Ibu hanya berjarak satu langkah dariku. Aku mulai bernafas agak berat menahan nafsuku. Barulah ibu kemudian membelitkan handuknya dan meninggalkan kamar mandi. Aku agak minggir namun karena aku masih tercengang gerakanku lambat, sehingga saat ibu melewatiku lengan kirinya menggesek lengan kiriku. Setelah itu aku masturbasi bagai orang kesurupan dan memuntahkan banyak sperma di celana dalam ibu.
Ibu tidak bilang apa-apa ketika kami berangkat sesuai jadwal. Tidak juga ketika malamnya. Aku tidak tahu apakah yang dipikirkan ibu dan ini membuatku bagai orang gila. Apakah ibu marah? Mengapa ibu tampak tidak terganggu ketika aku melihatnya telanjang? Tapi yang jelas aku menjadi bahagia karena aku dapat melihat ibu tanpa sehelai benangpun menutupi keindahan tubuhnya itu.
Esoknya ketika aku masuk kamar mandi, ibu memakai handuk, yang membuatku kecewa. Kali ini ibu cuek saja tanpa melambaikan tangan seakan aku tidak ada di situ. Aku menjadi hilang nafsu untuk masturbasi. Jadi saat itu aku hanya menukar celana dalam ibu saja untuk bekal siang, sore dan malam.
Tiga hari ke depan, tiap kali gosok gigi, ibu selalu memakai handuk yang membuat kekecewaanku semakin menjadi-jadi. Tapi kalau dipikir-pikir, masak ibuku akan membiarkan dirinya telanjang ketika anaknya membuka pintu tanpa alasan jelas? Waktu itu kan handuk ibu basah, jadi dia tidak pakai handuk basah. Aku simpulkan bahwa ibu tidak marah aku melihatnya telanjang, tetapi ia juga tidak akan memperlihatkan tubuh telanjangnya secara sengaja kepada anaknya. BAB TIGA
Esoknya hari Jum'at. Aku beranikan diri kini untuk membuka pintu ketika kudengar bunyi pertama kali deburan air terdengar. Kulihat ibu yang telanjang sedang menyirami tubuhnya dengan air. Ibu yang tampaknya tidak menyadari terus menyiram tubuh telanjangnya beberapa kali sebelum mulai menyampo rambutnya. Cukup lama ia menyampo rambut. Pertama dengan wajah mendongak ke atas, baru kemudian ia menundukkan muka untuk menyampo bagian belakang kepalanya. Saat itu ia melihat aku berdiri di depan pintu. Ia tampak terkejut. Lalu ibu berkata setelah menegakkan diri dan setengah memutar tubuh untuk menatapku,
"Sakit perut? Kamu mau buru-buru ke toilet?"
"Iya. Tapi masih bisa ditahan sedikit."
"Ya udah... Bilang kalau kamu udah kebelet banget."
Lalu ibu mulai meneruskan menyampo rambut. Ketika ia menyiram rambutnya, ibu sedikit nungging dengan kepala di majukkan ke depan untuk membilas rambutnya. Berhubung kedua kakinya sedikit membuka, serta merta aku melihat lipatan bibir memeknya yang agak tembem namun rapat. Beberapa saat lewat, sekitar dua menit ibu membilas rambutnya dan mataku tertuju ke memek rapat milik ibu menyebabkan aku tahu-tahu merasakan kontolku ejakulasi tanpa dapat ditahan-tahan. Aku ejakulasi di dalam celana. Dalam panik aku mengeluarkan seragam sekolah untuk menutupi celanaku. Namun aku belum mau beranjak. Aku memperhatikan ibu ketika ia mulai menyabuni tubuh cantiknya dari belakang. Mendapat ide, aku masuk ke dalam dan duduk di closet yang aku tutup dudukkannya.
"Memet pegel nunggunya. Duduk di sini aja ya?"
Ibu tampak sedikit kaget mendengarku masuk, namun ia hanya mengangguk kecil sehingga sekarang aku mendapatkan tontonan tepat di hadapanku, bagaikan nonton konser di depan panggung. Karena bak mandinya cukup rendah, aku nikmati lekuk tubuh ibu yang berbalur busa sabun mandi yang menambah sensualitas suasana. Untung saja aku sudah ngecrot duluan, jadi aku tidak akan ngecrot untuk waktu yang beberapa lama. Ketika ibu ingin menyabuni kakinya, ia berkata,
"minggir kakinya, Met." sambil menaruh kaki kanan di tengah dudukan kloset. Aku duduk dengan tangan kanan menyender di bak mandi yang ada di sebelah kananku. Wangi sabun ibu tercium jelas, sementara memeknya yang belum disabuni terlihat seperti satu robekan lurus saja yang rapat memanjang dari ujung jembut sampai dekat anusnya. Ibu menyabuni betis dulu kemudian ke paha, sementara mataku terpaku di belahan memek rapat ibu.
Saat ibu mulai menyabuni selangkangannya, nafsuku sudah naik lagi. Kurasakan kontolku mengeras. Tak kusadari aku memajukan badan agar dapat melihat selangkangannya lebih jelas. Ketika ibu menyabuni memeknya, bibirnya terkadang merekah karena usapan tangan ibu sehingga sedikit bagian dalam yang berwarna merah muda terkadang terlihat walaupun lebih banyak gelap karena tubuh atas ibu menutup sinar lampu. Tak sadar aku menghela nafas dari mulut sehingga sedikit mendesah. Ibu lalu menarik kaki kanannya dari closet untuk kemudian berdiri lebih ke kiri closet lalu menaruh kaki kanannya ke dudukan closet sebagai halnya tadi menaruh yang kiri.
Proses penyabunan itu berlangsung lagi dari betis perlahan ke atas ke paha, untuk kemudian kembali ia mengusap memeknya untuk beberapa saat. Kemudian ia mulai menyabuni punggungnya dengan masih menghadapku. Sabunnya yang mulai luntur membuat teteknya tampak semakin jelas secara perlahan. Aku lirik sebentar mata ibu dan ia sedang menatapiku dengan pandangan serius. Aku coba tersenyum. Tidak ada reaksi dari ibu maka aku kembali coba melihat memeknya yang sayangnya kini tertutup oleh kedua pahanya.
Tak lama ia berkata,
"Ibu mau siram. Baju kamu nanti basah."
Aku berpikir sejenak, lalu segera berdiri ke depan pintu membelakangi ibu dan berusaha secepatnya membuka seluruh bajuku dengan cepat. Ku tutup pintu dahulu, ibu menoleh sebentar kepadaku kemudian menoleh ke dinding lagi menunggu. Aku menggantungkan pakaianku setelah aku lepaskan dari badanku di gantungan di pintu yang hanya terdapat handuk ibu. Untuk celana dalam aku taruh di keranjang karena basah. Lalu aku duduk kembali di kloset.
Ketika aku duduk ibu mulai menyirami tubuhnya. Tubuhnya sungguh indah, mau telanjang biasa, telanjang bersabun maupun telanjang penuh siraman air, semuanya menyebabkan entah kenapa tubuh ibu terlihat bagaikan karya seni yang amat indah dalam nuansa yang berbeda-beda. Walaupun siraman itu kadang mempercikiku, aku tak peduli, aku reguk puas-puas pemandangan indah di hadapanku itu, kujelajahi senti demi senti dari setiap jengkal bagian tubuh yang dapat kulihat. Kukagumi setiap bagiannya, kupuja tiap lekuknya, kutanamkan dalam ingatanku keindahan surgawi.
Ketika sudah selesai, ibu kukira akan handukkan lagi, tapi ia malah bergegas mengambil sikat gigi dan mulai menyikat gigi, tetap dengan menghadapku. Aku tersenyum kecil karena masih dapat berkesempatan menjelajahi kemolekan tubuh ibuku itu. Ketika aku melirik matanya, ternyata mata ibu sedang menatap kontolku yang sudah mengeras dan mengacung dengan bangga. Aku tidak malu. Toh ibu cuek saja ketika anaknya memperhatikan organ intimnya, aku merasa sudah saatnya aku membalas kebaikan ibu.
Akhirnya ibu selesai sikat gigi. Ibu secara cepat mengguyur tubuhnya beberapa kali lalu mengambil handuknya dan mulai handukkan. Tak lama ia meninggalkan kamar mandi tanpa menutup pintu.
Aku keluarkan celana dalam dua hari yang lalu miliki ibu, lalu aku ambil yang baru ditaruh ibu dikeranjang. Tanpa malu-malu dan menutup pintu, aku mulai masturbasi di celana dalam ibu sambil menghirup aroma dari celana dalam yang satu lagi. Ketika aku ejakulasi, aku meram sebentar sambil membenamkan wajah di celana dalam ibu. Ketika aku buka mata, ibu sedang berjalan menuju bak mandi.
"gelang ibu ketinggalan," kata ibu sambil mengambil gelangnya di sisi sana bak mandi sementara aku kaget karena ketangkap basah oleh ibu dengan satu celana dalamnya menyelimuti penis dan yang lain menutupi hidungku. Tapi ibu meninggalkanku tanpa berkata apa-apa.
Malamnya, kami dapat kabar gembira bahwa mendadak ayah mendapat proyek besar dan besok harus berangkat ke luar kota selama sebulan. Bila proyek ini selesai, maka mungkin ayah akan naik jabatannya. Ibu tampak senang sekali karena kemungkinan promosi ini, tapi aku senang karena kesempatan dengan ibu akan lebih banyak.
Keesokan harinya, ayah akan berangkat siangan ke bandara, sehingga aku tidak memperoleh kesempatan apapun di pagi hari. Tapi saat ibu pulang kerja, aku menunggu waktunya ia mandi malam. Ibu biasanya sampai rumah sekitar jam lima. Ia akan mandi jam setengah enam sore. Aku sudah siap-siap di kamar dengan membuka baju sehingga telanjang. Ketika kudengar pintu kamar mandi tertutup, aku menunggu sekitar dua menitan, lalu aku segera menghampiri kamar mandi itu. Aku test putar kenop pintu dan ternyata tidak dikunci.
Kubuka pintunya perlahan, just in case ibu di belakang pintu menghindari ia terantuk pintu. Kulihat ibu berdiri menghadap pintu dan wajahnya agak kaget melihatku telanjang. Ibu hanya memakai celana dalam putih. Rupanya ia sedang dalam proses buka baju. Lalu tanpa bertanya, ibu membuka celana dalamnya, ketika ia akan menaruh di keranjang, aku yang sudah berani, mengangkat tanganku meminta celana dalam itu. Dengan wajah sedikit tercengang ibu menyerahkan celana dalamnya kepadaku. Sambil mataku menjelajahi tubuh ibu, aku membuka celana dalam ibu hingga bagian dalamnya terpampang jelas, cairan kuning terlihat membekas di daerah selangkangan. Sambil menatap mata ibu aku menghirup celana dalam ibu dalam-dalam. Ibupun menatapku lekat-lekat.
Sambil menatap mataku, ibu mengatur rambutnya untuk diikat dengan karet rambut yang sudah berada di pergelangannya. Kedua ketiaknya terpampang jelas. Dari tadi aku sudah nekat, dan kini tanpa pikir panjang aku melepaskan celana dalamnya dari wajahku, dan perlahan wajahku mendekati ibu. Tampang ibu syok melihatku mendekat, namun ia terus mengikat rambutnya. Tak mampu menahan gejolak nafsu dalam diriku, aku menjulurkan kepalaku dan menaruh hidungku di ketiaknya. Sambil menggenggam celana dalam ibu, aku mengocok burungku sementara hidungku mengendusi ketiaknya yang berbulu halus itu.
Beberapa saat kami terdiam. Ibu membiarkan aku membaui ketiaknya sambil meloco. Namun tak lama ia mundur lalu membalikkan badan, mengambil gayung dan mulai menyirami badannya. Aku terpana, pikiranku mulai dipenuhi tanda-tanya. Ibu tidak memarahiku, namun ia tidak membiarkan aku lama-lama menghirup aroma ketiaknya sambil masturbasi. Apakah gerangan yang sedang ibu pikirkan? Apakah artinya semua ini? Apakah ia memperbolehkanku atau melarangku mendekatinya?
Sementara itu, badanku kecipratan air juga ketika ibu menyiram badannya sendiri. Aku bingung harus ngapain. Ibu meneruskan mandi seakan aku tidak ada di sini. Ia mulai menyabuni badannya. Di lain pihak, aku sedang menimbang-nimbang apakah yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku berani untuk kembali mendekati ibu? Untuk menyentuhnya? Apakah kali ini ia akan memarahiku?
Kali ini sehabis menyabuni tubuh depannya sebentar, ibu menyabuni punggungnya yang sekarang berada di depanku. Perubahan gaya mandi, pikirku. Kemarin ia menyabuni kaki setelah menyabuni badan depannya. Sementara aku berpikir, aku melihat tidak semua punggung ibu dapat tersabuni. Wah, ada celah untuk dapat menyentuh bidadari cantik yang melahirkanku ini.
"Ga semua punggung ibu kena sabun tuh. Sini biar Memet bantu," kataku sambil mengambil sabun cair yang ada di bak mandi. Setelah kuberi sedikit air dan kugosok merata di kedua telapakku, aku ke belakang ibu dan mulai membantunya menyabuni punggungnya yang putih menggairahkan itu. Kulit ibu begitu halus dan licin. Tanganku bagai mengusapi kain sutera yang halus.perlahan aku memajukkan badanku. Perlahan penisku yang tegang kumajukkan sehingga kini berada di antara selangkangannya. Berhubung aku masih lebih pendek sedikit dari ibuku, maka kini kepala kontolku menggesek bibir memek ibu perlahan, seiring dengan gerakan majuku itu. Kebetulan kaki ibu tidak begitu rapat sehingga aku dapat menyelipkan burungku di antara pahanya yang kenyal.
Kedua tangan ibu di taruh ke depan, sehingga kini posisi tubuhnya agak miring ke depan. Kami berdua terdiam. Yang terdengar adalah nafas kami yang makin lama makin memburu. Ketika penisku tidak dapat maju lagi, batangku berada tepat di bawah bibir vagina ibu. Saat itu ibu sedikit merapatkan kakinya walau tidak terlalu menjepit, hanya cukup membuatku merasakan kedua pahanya mengapit kontolku.
Perlahan aku membuat gerakan mengentot. Kugoyangkan pantatku maju mundur sehingga kontoku mulai menggesek maju mundur bibir memeknya. Lama kelamaan bibir memeknya merekah dan aku merasakan batangku menggerusi otot kenyal yang basah namun hangat. Sekarang kuusap bagian pinggir tubuhnya dengan kedua tanganku dari pinggang ke atas secara perlahan. Dalam perjalanannya, kedua telapakku dapat merasakan gumpalan empuk ketika melewati gundukan samping kedua payudara ibu yang mancung. Saat kedua tanganku mengelus pinggir tetek ibu, kudengar ibu menghela nafas perlahan. Tampaknya ia mulai bernafsu juga. Saat tanganku mentok di ketiaknya, aku usap lagi ke arah bawah, namun kedua tanganku kugerakkan ke depan juga sehingga perlahan kedua tanganku mulai mengusap payudara ibu mulai dari atas bongkahan buah dada ibu lalu kedua tanganku berhenti ketika pada pertengahan telapakku kurasakan pentil ibu.
Sambil terus menggesek-gesek memek ibu dengan batang kontolku, masih secara perlahan aku remas-remas payudara ibu.
"aahhhh" ibu mendesah perlahan. Lalu kurasakan pantat ibu mulai mengikuti goyanganku. Ketika aku menusuk ke depan, ibu akan mendorong pantatnya ke arahku dan ketika aku menarik pantat, ia akan menarik pantatnya ke depan. Kami saling masturbasi menggunakan kedua kelamin kami. Bahasa inggrisnya adalah dry hump, karena ini kami lakukan tanpa penetrasi.
Aku ingin mencium punggung ibu, maka aku ambil gayung dengan tangan kananku dan kusiram punggung ibu agar sabunnya hilang. Setelah terlihat punggung ibu licin oleh air, aku menaruh gayung, menggenggam payudara kanan ibu lagi, dan mulai untuk menciumi punggung ibu. Punggung yang halus dan licin itu masih wangi sabun. Kuciumi seluruh punggung atas ibu yang dapat aku raih, pertama perlahan, lama-lama mulai lebih intens. Seiring itu, ibu mulai menggoyang pantatnya semakin cepat sambil mendesah-desah dan melenguh pelan.
"ssshhh.... Hmmmphhh.....hmmmmphhhhh......aaahhhh....."
Birahiku sudah di ubun-ubun. Aku mulai menjilati punggung ibu dan remasanku tak kusadari sudah lebih bertenaga di banding sebelumnya. Tiba-tiba kepala kontolku memasuki lubang memek ibu, namun hanya sebentar untuk kemudian melejit keluar lagi. Ibu memekik pelan, namun kedua kakinya tiba-tiba saja menjepit kontolku dengan keras sehingga yang tadinya aku berencana memasukkan saja kontolku ke dalam vagina ibu, kini tidak dapat dilakukan. Tampaknya ibu hanya mengijinkanku dry humping dengan ibu, selebihnya tidak.
Aku pikir begini saja sudah asyik dan diperbolehkan, oleh karena itu rencanaku untuk mengentot ibu aku pendam sementara. Bila ibu mendapatkan kepuasan tentu akan memperbolehkanku melakukan ini lagi. Siapa tahu suatu saat ia tak akan perduli bila aku menyetubuhinya.
Maka aku terus menggeseki vagina ibu, sambil meremas dan mencium atau menjilat punggung ibu. Lama kelamaan memek ibu sudah banjir dan licin karena air pelumas vaginanya sudah keluar banyak. Semakin asyik penisku bergerak karena licinnya itu. Desahan ibu makin cepat dan keras. Jepitan pahanya makin keras pula. Aku tak tahan lagi dan sambil mengenyot punggung tengah ibu, aku menyemprotkan air maniku yang menyemprot ke bak mandi. Saat itu ibu tiba-tiba melenguh keras sambil menjepit penisku keras-keras. Selama beberapa saat kami berdua tenggelam dalam orgasme. Akhirnya setelah itu ibu melepaskan kontolku dan mulai menyirami badan lagi. Kali ini kami mandi berdua tanpa banyak omong. BAB EMPAT
Setelah mandi, kami makan malam tanpa bicara di ruang makan. Aku terus memperhatikan wajah ayu ibu, sementara ibu hanya sesekali saja melihatku. Setelah makan ibu cuci piring. Aku tetap di meja makan untuk mengamati lekuk tubuh ibu yang memakai tank top berwarna kuning yang agak tipis. Sepanjang makan tadi kuperhatikan pentilnya menyembul tanda ia tidak pakai BH. Ibu memakai celana hot pants yang ketika berdiri memperlihatkan belahan memeknya. Apakah ibu tidak memakai celana dalam ataukah celana dalamnya tipis membuatku penasaran.
Saat ibu sedang asyik melap piring, aku iseng berdiri di belakangnya. Dengan perlahan aku pegang karet bagian atas hot pants ibu. Ibu kaget sebentar untuk kemudian melanjutkan lagi aktivitasnya. Aku lalu membetot celana ibu itu ke bawah perlahan, dan kudapati belahan pantatnya menyambutku. Ibu tidak pakai celana dalam! Dikarenakan tidak ada reaksi dari ibu, maka aku meneruskan menarik celananya hingga akhirnya celana itu di pergelangan kakinya. Ibu tidak mengangkat kakinya hingga aku yang harus perlahan memegang sebelah kakinya dan mengangkatnya. Ibu hanya mengikuti. Kulakukan pada kedua kakinya hingga celana ibu itu lepas dari tubuhnya.
Ketika aku berdiri sambil memegang celana ibu, ibu sudah selesai mengeringkan piring. Ia berjalan menuju ruang tamu dengan hanya memakai tank top saja! Aku mengikuti ibu, dan kulihat ia menyalakan tv dengan remote dan mencari-cari channel yang bagus untuk ditonton. Ibu duduk di sofa besar di pojok kiri tanpa menyender, aku membuka seluruh pakaianku di hadapan ibu. Ibu hanya melihatku sebentar lalu meneruskan memperhatikan TV. Kemudian aku duduk di sebelahnya dan mulai menarik tank top ibu ke atas. Ibu tidak membantu sama sekali sehingga agak lama juga aku membugili ibuku. Aku harus mengeluarkan tank top itu dari tangan yang satu kemudian yang satu lagi tanpa bantuan. Untung saja ibu tidak memakai kaos biasa yang pasti akan menyulitkanku.
Setelah ibu bugil dengan penuh kemenangan aku melempar tank top itu ke lantai menemani celananya yang tadi aku lempar juga ketika aku buka baju di hadapan ibu. Ibu asyik menonton sinetron. Aku menarik badan ibu ke belakang agar ia menyender dan tidak ada perlawanan darinya. Kemudian aku mendorong ibu agar ia kini tiduran di sofa dengan kepala bersender di lengan kiri sofa besar itu. Kini ibu bergerak membantuku. Ia tampaknya tahu posisi yang kuinginkan sehingga ketika kepalanya kutaruh di atas lengan sofa, ia menaikkan kaki kanannya sehingga kini ia telentang di sofa dengan wajah miring menatap TV dengan kaki kanan ditekuk dan bersandar di badan sofa, sementara kaki kirinya menjejak lantai. Ia mengangkang di hadapanku memperlihatkan memeknya dengan jembut yang lebat dan bibir vagina yang rapat dan tembam.
Aku perlahan naik ke sofa, duduk di dekat selangkangannya. Kemudian aku beringsut maju sehingga akhirnya batang kontol bagian bawahku menempel sela-sela bibir memek ibu yang rapat. Perlahan aku menindih ibu. Karena ibu lebih tinggi sedikit, posisi ini membuat kepalaku tidak sejajar dengan kepala ibu. Aku menggeser ke atas sehingga wajahku sejajar, tapi kontolku jadi berbaring di bulu kemaluan ibu. Aku pikir nanti sajalah, sekarang aku mau mencumbu bibir ibu dahulu.
Perlahan kucium pipi ibu. Ibu tetap menonton TV. Lalu aku perlahan menciumi pipinya untuk kemudian bergerak ke arah bibirnya yang sedang tertutup. Akhirnya bibirnya kucium. Tak ada reaksi. Kukecupi bibirnya, namun tidak ada respons dari ibu. Bagaikan mencumbu boneka saja, pikirku kesal, apalagi aku harus miringkan kepala segala. Aku pegang kepalanya di bagian kuping untuk menarik wajahnya agar menengok ke arahku. Ia menatapku sambil menaikkan alisnya seakan bertanya mau ngapain?
Aku keluarkan lidahku dan menjilati sela-sela bibirnya. Mulut ibu membuka. Kujilati giginya yang terlihat. Ibu masih menatapku saja dan membuka mulut namun dengan gigi yang terkatup. Aku jadi sebel.
"giginya buka, dong!" rengekku.
Ibu mendengus sambil tersenyum lebar melihatku yang lagi horny dan penasaran ini. Lalu dia menjulurkan lidahnya. Aku segera menjepit lidah ibu dengan kedua bibirku dengan posisi lidahku di bawah lidahnya lalu mengemuti lidah ibu yang hangat dan basah itu. Ibu melepaskan sedotanku dengan memalingkan wajahnya. Aku merengek lagi. Ibu tersenyum nakal dengan mulut yang bergerak seakan mengunyah sesuatu. Kemudian ibu membuka mulutnya lagi dan mengeluarkan lidahnya lagi, kini dengan terlumur ludah yang lumayan banyak. Aku segera memiringkan wajah sehingga lidah atasku menjilat lidah atas ibu yang bermandikan ludah ibu. Kujilati lidah ibu dengan rakus sampai leherku agak sakit karena miring. Aku menegakkan wajahku kembali.
Ibu tersenyum, namun kulihat kerling nakal di matanya. Kini lidahnya sudah di dalam mulut lagi. Namun bibirnya perlahan merekah membuka. Matanya menatap bibirku. Aku mencium bibirnya dan kali ini ibu membalas sambil satu tangannya memegang belakang kepalaku dan satu tangan melingkar di punggungku. Kami berdua saling mendekap satu sama lain dan berciuman dengan hot. Bagaikan dua kekasih yang lama tak berjumpa bibir kami saling memagut, mengecup dan menjepit. Lidah kami saling beradu. Perlahan dengan kekuatan perempuan dewasa rangkulannya bertambah kuat, payudara ibu yang kenyal menempel ketat di dadaku yang rata.
Kadang-kadang french kiss yang kami lakukan menjadi saling menjilat lidah satu sama lain, ludah yang ada di mulut kami berdua sudah bukan hanya dari mulut sendiri-sendiri lagi, melainkan campuran ludah ibu dan anak. Keringat sudah mulai membanjir keluar dari kelenjar keringat kami masing-masing, sehingga tubuh kami yang telanjang bulat kini basah oleh keringat gabungan kami. Bau tubuh ibu samar-samar mulai tercium tanda seorang perempuan yang sedang dilanda birahi yang menyebabkan cairan kewanitaannya berproduksi dan keluar membasahi relung-relung kemaluannya.
Aku mulai menciumi sekujur wajah ibu yang basah oleh keringat. Kujilati pipi ibu, kujilati telinganya, kelopak matanya, dahinya, rambutnya, bahkan hidung dan lubangnya tak luput dari sapuan lidahku. Perlahan aku bergerak ke bawah dan mulai menjilat dan mengecupi lehernya yang basah. Aku mengangkat kepalaku. Kami berpandangan sejenak. Nafsu kebinatangan dapat kulihat di mata ibu. Suatu tatapan yang tak pernah aku lihat sebelumnya, tatapan yang biasanya hanya diberikan kepada ayahku di malam-malam penuh gejolak asmara.
"Aku cinta padamu, IBU." kataku perlahan setengah berbisik. Aku tekankan pada kata 'ibu', karena aku ingin ia tahu bahwa aku menyadari bahwa nafsu birahiku ini memang ditujukan kepadanya. Karena ibu bukanlah perempuan pelampiasan bagiku. Ibu adalah perempuan yang kucintai dengan hati dan juga dengan seluruh tubuhku. Tubuhku mau mencintai ibuku seperti halnya seorang pejantan mencintai betinanya.
Ada kilasan takut di matanya. Mungkin ibu menyadari juga fakta bahwa anak yang ia kandung dan ia lahirkan kini sedang telanjang bulat menindih tubuhnya yang juga polos tanpa ada apapun yang menghalanginya. Namun kilasan takut itu hanya sebentar, karena kilasan birahi muncul lagi tak lama setelah itu.
Entah kenapa ibu tidak bicara. Seperti halnya ketika di kamar mandi. Tidak ada kata-kata yang diucapkan kepadaku. Lama setelah ini semua terjadi dan ketika aku mulai bertambah tua, aku menyadari bahwa ibu mungkin malu untuk menyatakan gairah yang ia rasakan kepada anaknya sendiri. Sebagai orang dewasa seharusnya ia menghalangi apa yang akan terjadi, namun sebagai seorang perempuan yang butuh kasih sayang lelaki, yang jarang sekali didapatkan dari ayahku yang kadang aku pikir terlalu sok alim, sehingga apa yang selama ini berusaha ibu pendam dalam-dalam, meledak keluar ketika mendapatkan penyaluran. Asmara seorang wanita memang janganlah terlalu dikekang atau dipendam, karena bila gejolak itu keluar, pada akhirnya akan keluar dengan dahsyat bagai gunung meletus.
Aku menangkupkan kedua tanganku di bagian bawah buah dada ibu, membingkai lekuk indah kedua otot menyusui itu sehingga putingnya yang mancung seakan menjadi pusat pemandang indah yang harus diperhatikan. Perlahan aku mencium belahan dada ibu yang membagi kedua gunung kembarnya. Ciumanku dimulai dari bagian atas belahan dada itu menuju ke bawah. Lalu aku mencium ke atas belahan dada itu lagi. Ketika sampai di titik awal, ciumanku berbelok menyusuri pinggiran atas sepanjang permulaan bukit dada kanan ibu. Nafas ibu mulai memberat. Perlahan ciumanku bergerak menanjak sedikit demi sedikit bagaikan pencinta alam mendaki gunung, hanya saja arah jalannya ciumanku bergerak ke kiri dan ke kanan untuk mencium setiap jengkal kulit putih ibu dalam perjalannya menuju ke puncak. Ibu mulai mendesah lagi. Tetapi, bukan rencanaku untuk mencium pentilnya saat ini, karena ketika sudah hampir sampai puncak, aku beralih menciumi payudara kiri ibu, mulai dari pinggiran atas bukit kembarnya itu.
Ibu menjewerku perlahan sambil menggumam dengan nada sebal. Sepertinya dia menginginkanku untuk segera melumat putingnya yang sudah tegak dari tadi. Tapi aku hanya menatap ibu sambil mengedipkan sebelah mata. Kulihat ibu memperlihatkan muka cemberut, tapi anehnya, wajah itu tampak begitu cantiknya di mataku. Wajah perempuan yang sedang sange berat.
Ketika ciumanku di tetek kiri ibu sudah sampai puncak, aku mengecup cepat puting kiri ibu itu. Ibu menatapku dengan penuh antisipasi, sementara aku nyengir jail. Tahu-tahu tangan ibu mendorong kepalaku dari belakang sehingga bibirku membentur pentilnya. Segera aku membuka mulut dan menyedot putingnya perlahan.
"sssshhhh..... Shsshshhhh....." ibu mendesah terus sementara aku asyik mengenyot-ngenyot putingnya yang tegak karena birahi. Lidahku kadang ku putar dan kadang ku sapu naik turun. Tangan ibu mengelusi rambutku sementara yang sebelah lagi mengetatkan pelukannya di tubuhku. Lambat laun aku sadari kontolku kini sudah berada di depan memeknya. Batang penis bagian bawahku telah duduk manis di lipatan bibir luar vagina ibu. Aku mulai menekan dan menggoyang pantatku. Ibu menjawab dengan melingkarkan kakinya di kakiku sambil menggeseki kakiku dengan erotis.
Mulutku beralih mengenyot puting payudara ibu sebelah kanan. Selangkangan ibu mulai menekan balik kontolku. Memeknya sudah basah kuyup oleh cairan pelumas yang ditambah dengan keringat kami berdua. Aroma tubuh ibu kini mulai memenuhi udara malam. Aroma yang berasal dari kedua ketiaknya dan juga dari lubang kenikmatan ibu.
Bibirku kini mulai menyusuri tubuhnya ke bawah. Sepanjang perutnya aku tidak melewatkan satu sentipun kulitnya yang putih dan halus itu. Perlahan bibirku menjelajahi tubuh bagian bawahnya, melewati pusar dan terus ke bawah. Dengan nafsu aku mulai menjilati dan mengenyoti jembut ibu yang ikal dan lebat, aroma tubuh ibu semakin santer menusuk hidungku. Saat lidahku menyusuri lipatan bibir luar vagina ibu dari bawah ke atas, ibu mengerang keras,
"aaaahhhhh....... Meeettttt........ssssshhhhhhh"
Dengan kedua tanganku, aku membuka bibir vaginanya. Daging memek ibu berwarna merah muda dan penuh cairan bening. Aroma tubuh ibu di hidungku membuat aku seakan sedang bernafas di dalam dunia yang diisi bukan oleh oksigen, melainkan bau tubuh ibu. Kucolok bagian dalam memek ibu dengan lidahku lalu aku jilat ke atas, menyusuri tiap jengkal otot bagian dalam memeknya. Aku sudah tahu rasa memek ibu, karena aku sudah sering menjilat celana dalam ibu yang ada sisa cairan kemaluannya, namun, kini, menjilati langsung memek ibu ternyata terasa lebih nikmat, lebih sensual dan lebih menggairahkan. Fakta bahwa inilah kemaluan seorang perempuan yang adalah ibu kandungku sendiri malah menambahkan sensasi tersendiri. Ada perasaan takut karena tabu, namun malah perasaan itu menambahkan birahi yang berpuluh kali lipat. Ketika aku sudah dewasa dan beberapa kali berhubungan seks dengan wanita lain, tak pernah aku merasakan level gairah yang setinggi bila aku melakukannya dengan ibuku sendiri.
"ooohhhh...... Ennnnnaaaakkkkk......... Jilat terus memek ibu meeettt........ Belum pernah ada yang jilati memek ibu..........."
Saat kenikmatan seksual seperti ini, tampaknya ibu sudah mulai kelepasan bicara. Gengsi sebagai ibu sudah dilupakan sama sekali. Bahkan ucapannya itu membuka rahasia rumah tangganya. Ayah tak pernah menjilati memek ibu. Dasar lelaki bodoh!
Berkali-kali aku menelan cairan memek ibu yang harum dan licin karena lidahku yang menjilati lobang kencing ibu itu terus-menerus dibanjiri cairan memeknya tanpa berhenti. Kenikmatan cairan memek ibu dan juga begitu halus dan hangatnya liang senggama ibuku membuat aku tahan berlama-lama mengobrak-abrik bagian dalam kemaluan ibu dengan lidahku. Kedua tanganku sudah memegangi pinggul ibu yang bahenol, sementara mulutku terbenam di dalam kemaluan ibu, dan kini kedua paha ibu yang putih tanpa lemak dan halus itu menjepit kepalaku dengan keras. Klitoris ibu kurasa sudah mengacung tegak saat beberapa kali lidahku menyapu daerah itu. Dengan gemas aku kenyot dan hisap klitoris ibu.
"Ngentooooooootttttttt............ Anjiiiiiingggggg loo meeeeet.............. Gue sampeeeeeeeeeee.............. Sedot terussssss....... Isep kenceng-kenceeeennggg... Minum air memek ibuuuuuuuu......... Makan memek ibu, meeettt...... Ini minum air memek ibuuuuuuuuu"
Cairan memek ibu membanjiri mulutku terkadang aku membuka mulut untuk membiarkan cairan itu masuk, namun aku terus menyedot-nyedot klitoris ibu yang adalah cairan surgawi bagiku. Kurasakan selangkangan ibu bergetar seperti kejang kecil.
"ngentooooooooootttttt.............ngentot ngentot ngentot memeeeeeetttttttttttttttt.!"
Dengan teriakan itu, ibu tiba-tiba berbaring diam dengan lemas. Dadanya tersengal-sengal seperti baru saja lari marathon. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Ibu memejamkan mata dengan wajah yang lelah namun penuh kepuasan.
Aku sudah tidak mampu menahan lagi gejolak birahiku. Inilah saatnya melepas keperjakaanku. Aku beringsut duduk, kusibakkan memek ibu dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang batang kontolku. Kepala kontolku kutaruh secara hati-hati di lubang vagina ibu yang sudah licin sekali. Kucoba tekan, tetapi kontolku melejit. Kucoba sekali dan ujung kontolku mampu masuk hampir setengah. Kucoba dorong pantatku tapi lubang memek ibu bagaikan melawan balik. Aku dapat akal, dengan kepala kontol setengah masuk, aku beringsut menindih tubuh ibu. Ibu membuka matanya perlahan. Ia menatapku dengan sayu. Perlahan senyumnya tersimpul.
Aku melingkarkan tanganku di tubuh ibu. Ibu membantuku dengan sedikit beringsut di sofa. Kutindih badan ibu dengan seluruh badanku, dagu di dadanya. Lalu dengan kuat-kuat aku peluk ibu dan aku menghentakkan pantatku ke depan secara kencang sehingga mendadak kontolku menerobos masuk dengan paksa. Hanya saja tidak sampai setengah jalan, ada penghalang yang menahan gerak laju kontolku.
"Adaaaaaaawwwwwwww..........." teriak ibu. Kedua tangannya menangkap pinggulku dan menahannya.
"Mau Memet cabut aja, bu?"
Ibu menggeleng-geleng.
"Jangan bergerak dulu. Sakit. Kontolmu panjang dan gede banget. Kontol ayahmu itu kecil. Panjangnya ga sampai 7 senti dan kurus. Kayak punyanya anak kecil. Memek ibu ga biasa dengan kontol segede milikmu, karena kamu anak kecil tapi kontolnya kayak punyanya orang gede. Itu kayaknya selaput dara ibu."
"apa? Ibu masih perawan?"
"sebenarnya sih enggak. Cuma kontol ayahmu ga sampai menerobos masuk, hanya menowel sedikit saja. Ibu hanya merasa sakit sedikit pada saat malam pertama, tapi tidak ada darah. Ayah kamu pikir ibu sudah tidak perawan, sampai-sampai dia bawa senter dan melihat ke dalam lubang ibu. Walaupun terlihat juga selaput dara ibu masih utuh, tapi ayah dan ibu bertengkar, karena ibu merasa ayah tidak percaya sama ibu. Itulah pertengkaran hebat pertama ibu dan ayahmu."
"dan untung saja Memet lahir cesar. Kalau enggak Memet ga akan mengambil keperawanan ibu sendiri. Ya, nggak bu?"
Ibu menatapku sayu dan mengangguk.
"anakku yang ganteng berhasil mengambil keperawanan ibunya yang selama ini dijaga dengan setia. Kamu emang beruntung banget, Met."
Dalam hati aku memang jadi bersyukur banget, secara fakta ibu memang tidak perawan, tapi secara teori, ibu adalah perawan karena selaput daranya belum kena bobol orang. Aku jadi bersemangat karena dapat menjadi orang pertama yang menjebol selaput dara ibu.
Kami berpelukan dan terdiam selama beberapa menit. Secara iseng, aku hisapi lagi kedua susu ibuku itu. Lama-kelamaan memek ibu mulai mengeluarkan cairan pelumasnya lagi. Pegangan ibu di pinggulku juga sudah melemah. Ia mulai memeluk tubuhku dan mengelus kepalaku.
"penuh banget memek ibu,"katanya,"kamu memang lelaki jantan,"
Vagina ibu bagai bernafas karena kurasa terkadang menutup dan membuka.
"Bu... Memet mau dorong, boleh ya?"
Ibu mengangguk pelan. Sambil berkata,
"ambil selaput dara ibumu, Met. Ibu udah ga sabar."
Aku memeluk ibu dengan kuat seperti tadi, lalu aku tarik perlahan kontolku, mengambil ancang-ancang dan lalu mendorong lagi dengan tenaga yang lebih keras dari sebelumnya. Tetapi baru 3/4 batangku amblas di memeknya dan penetrasiku berhenti lagi. Kontolku serasa dijepit keras sekali oleh otot dinding vagina ibu yang hangat. Sedikit sakit kurasa di sekujur batangku yang menancap di dalam memek ibu. Kontolku berhenti karena mentok. Kurasakan kepala kontolku menancap di sesuatu yang terasa seperti celah. Berarti kontolku sudah masuk dan memenuhi liang vagina ibu, sementara karena panjangnya yang tidak normal bagi orang Asia, kepala kontolku kini menekan di ujung liang vagina ibu. Celah itu adalah pintu rahim ibu. Kulihat wajah ibu meringis kesakitan, aku jadi kasihan melihatnya.
"Kamu sudah di pintu rahim ibu. Kalau kamu dorong, artinya kontolmu sampai ke rahim ibu."
"boleh ga?"
"tunggu dulu kayak tadi, biar lubang memek ibu beradaptasi sama kontolmu yang besar, Met. Isepin tetek ibu kayak tadi biar cairan ibu keluar lebih banyak lagi."
Bagaikan katak telungkup di daun teratai, aku menindih ibu dengan kontol bersarang 3/4 bagian dalam memeknya, sementara mulutku asyik mengunyahi payudara ibu secara perlahan dan terkadang pindah ke toket yang satunya. Dada ibu sudah penuh cupangan dan ludahku yang bercampuran dengan jus keringat kami berdua.
"coba tarik dorong pelan-pelan, jangan tembusi rahim ibu dulu. Biar lobang memek ibu sedikit longgar dulu."
Aku ingin lihat batangku yang akan aku tanam dan tarik di kemaluan ibu, maka aku ambil posisi duduk untuk lalu kini pelan-pelan aku tarik keluar. Sempitnya lubang ibu sungguh mengeluarkan perasaan ngilu tapi nikmat sepanjang batangku yang menggeleseri dinding dalam gua kenikmatan ibu. Aku berhenti sampai hanya kepala kontolku saja yang ada di dalam vagina ibu, kulihat batangku itu basah oleh cairan pelumas kemaluan ibu dan ada darah ibu yang menyelimuti kontolku juga.
"Memek ibu berdarah. Sakit ya?" kataku khawatir.
Ibu menggeleng perlahan.
"sakit sedikit, tapi rasa enaknya sangat melampaui rasa sakit itu. Jangan takut, itu darah dari selaput dara ibu yang kamu koyak."
Perlahan aku dorong kontolku, sepanjang perjalanan kontolku memenuhi seluruh dinding kemaluan ibu mengirimkan sinyal ngilu sepanjang kontol, ngilu yang enak sekali, bahkan dengkulku juga ikut merasakan ngilu yang nikmat itu. Sambil terus duduk dan menatapi alat kencing ibu yang sedang digagahi kontolku, aku terus mengentot memek ibu, pertama-tama perlahan, namun seiring waktu gerakanku sedikit lebih mudah karena bantuan cairan ibu yang kembali berproduksi, dan juga otot vagina ibu sudah mulai beradaptasi dengan besarnya kontol yang sedang menggergaji masuk keluar.
"enaaaakkkkkk.... Ngilu-ngilu nikmaaaaat....... Terus Meetttt....... Ibu belum pernah ngerasa memek ibu penuh banget kayak giniiiii....... Enak banget memek ibu di masukkin kontolmu, Meettt.... Aaaahhhhhh" ibu memejamkan mata dan terus mengerang keras sambil mengucapkan kata-kata yang makin lama makin membuatku tambah bernafsu dalam menyetubuhi ibu.
"sekarang coba tempel kontolmu di lubang rahim dulu" kata ibu. Aku menurut, waktu aku dorong masuk kontolku, aku berhenti ketika mentok di lubang kecil rahimnya. Aku sebenarnya ga tahan karena lubang ibu nikmat banget, perlahan aku melakukan gerakan kecil tarik dan dorong untuk menikmati dinding vagina ibu yang sempit.
"jangan dorong lagi. Gini aja.... Coba kayak tadi waktu kamu perawanin ibu. Kayaknya harus dipaksa. Kamu ambil ancang-ancang, jangan terlalu jauh dari lubang rahim ibu, kemudian kamu genjot keras-keras memek ibu dalam satu tusukkan."
"Yakin bu? Nanti sakit lagi."
"biasanya abis sakit pasti enak...... Tadi aja kamu perawanin ibu rasanya sakit banget. Tapi abis itu kerasa enak banget waktu kamu mulai ngentotin ibu. Ibu yakin, met.... Ayo coba paksa kontolmu masuk ke rahim ibu."
Aku peluk ibuku lagi erat-erat. Ibu menahan nafas, lalu aku hentakkan lagi kontolku kuat-kuat ke depan. Dengan paksaan, kepala kontolku berhasil menembus ujung liang memek ibu dan dengan bunyi plop yang hanya dapat kurasakan di kontol dan tak kudengar, seluruh batangku amblas dalam tubuh ibu dan akhirnya aku dan ibu menjadi satu tanpa halangan dan jarak apapun di antara selangkangan kami yang menempel.
"uuuuuuhhhhhhhhhh........ Tahan dulu..... Jangan goyang dulu......." kata ibu.
Kami berdua bernafas secara cepat karena mengalami petualangan seks yang masing-masing belum pernah alami sebelumnya.
"memek ibu jadi longgar nih....... Ayah kamu pasti curigaaaa......."
"Ibu milik memet sekarang. Mending ibu cerai sama ayah saja. Memet ga mau berbagi sama ayah."
"bener kamu mau ayah sama ibu cerai? Sebenarnya ibu dari dulu mau cerai sama ayahmu. Tapi karena kamu, ibu menahan diri selama ini."
"bener bu. Kita kawin aja."
"ini kan lagi kawin. Kamu lagi ngawinin ibu sendiri."
Lucu juga kalau ada orang yang melihat kami saat ini. Seorang ibu cantik sedang berpelukan dengan anak kandungnya tanpa memakai sehelai baju, sementara kedua alat kelamin mereka menyatu dan mereka berdua asyik membicarakan perceraian sang ibu dengan ayah.
"sakitnya udah reda sedikit,"kata ibu,"coba kamu goyang perlahan-lahan."
Aku mulai menarik perlahan kontolku sehingga batangku merasakan tiap jengkal otot dinding vagina ibu sampai kepala kontolku keluar dari rahim ibu dan berhenti di tengah vagina ibu, berhubung bila lebih jauh lagi, aku harus memundurkan posisi tubuhku lebih banyak lagi, jadi aku ga mau lebih jauh lagi menarik kontolku. Lalu perlahan aku majukan lagi kontolku sehingga batang kontolku kembali menggesek dinding vagina ibu yang sempit itu, pada saat sampai di celah rahim, hanya ada halangan sedikit, terasa bagaikan mobil melindas polisi tidur, kepala kontolku bagai menggesek benjolan kecil berbentuk cincin, tapi kontolku tidak terhalang apapun sampai seluruh kontolku masuk lagi di dalam memek ibuku.
"sssshwhhhhhh....." ibu mendesis. Ia menutup matanya sambil menggigit bibir bawah.
"sakit?"
Ibu menggeleng.
"terus kocok pelan-pelan memek ibu pake kontolmu, met."
Aku lalu mengocok kontolku pelan-pelan di dalam memek ibu. Makin lama celah rahim ibu akhirnya tidak terasa lagi. Tampaknya liangnya sudah terbuka penuh mengakomodir besarnya kontolku.
"lebih cepat, Met.... Sssshhhhhh..... Entotin ibu lebih cepat lagi....."
Kami saling mengerang dan mendesah, sementara ibu mulai menggerakan pantatnya mengikuti irama entotanku. Kami menari bukan selayaknya ibu dan anak, tetapi menarikan tarian persenggamaan yang seharusnya dilakukan antara isteri dan suaminya, sehingga kini secara de facto ibu adalah isteriku. Persetubuhan kami itu adalah suatu pengalaman paling luar biasa yang pernah aku jalani. Kenyataan bahwa aku dapat menggagahi lubang persenggamaan ibu yang sangat sempit adalah suatu kenyataan yang berasal dari keberuntungan diriku yang mempunyai ayah dengan penis kecil.
Mungkin hal ini juga yang membuat ayahku tidak memiliki nafsu seks yang tinggi. Banyak hal menjadi jelas kepadaku. Di kemudian hari, saat ibuku dan aku menjadi pasangan kekasih, ibu membuka segala rahasia perkawinan mereka. Ternyata mereka pisah ranjangpun karena mereka bertengkar dengan hebat mengenai perihal ranjang perkawinan mereka yang bagi ibu adalah suatu proses yang tidak pernah memuaskannya. Ibu hanya menjalankan kewajiban seorang isteri tanpa sekalipun mengalami orgasme. Akhirnya ibu selama ini kalau sudah horny banget akan masturbasi dengan menggunakan jarinya untuk menstimulasi klitorisnya.
Betapa bahagianya aku mengetahui bahwa tidak pernah ada benda yang pernah masuk sejauh kontolku memasuki tubuh ibuku. Betapa untungnya ibu selama ini tidak membeli dildo atau menggunakan timun dalam menstimulasi hubungan seksual. Untung saja ibu belum pernah selingkuh dengan orang lain. Semua keuntungan ini dalam pikiranku adalah suatu bentuk takdir, bahwa memek ibu yang indah itu, walaupun pernah disenggama oleh ayah, tetapi tidak pernah secara benar dientot. Kini ibu sangat menikmati dientot lelaki secara benar dan walaupun yang mengentoti ibu adalah anaknya sendiri yang tidak berpengalaman, namun karena sebenarnya ibu juga tidak benar-benar berpengalaman dalam hubungan seksual yang saling memuaskan, maka dalam kenyataannya kami berdua bagaikan pasangan pengantin baru yang sedang mengalami persetubuhan pertama kalinya.
Ibu mengangkat kepalaku yang sedang asyik menyelomoti seluruh dadanya yang sudah penuh cupangan, ludah dan keringat. Ia menunduk sedikit sehingga kami berciuman. Ibu menciumku begitu bernafsunya sehingga terkadang terdengar suara kecupan keras ditingkahi suara dari mulut ibu.
"mmmpphh...... Mmmmphhhhh......"
Lidah kami saling mengaduk-aduk isi mulut kami dan saling menjilat satu sama lain. Aku menjadi terpengaruh permainan liar ibu. Pantat ibu bergoyang-goyang makin keras dan berputar-putar sambil maju mundur. Aku tak mau kalah sambil memutar pantat aku juga perlahan menambah terus tenaga dorongan pantatku. Ibu menahan kepalaku sehingga kami melepaskan ciuman saat kedua mulut kami membuka dan lidah kami sedang saling menekan. Ibu berdehem sambil terlihat mulutnya mengumpulkan ludah, ia mendekati mulutku yang terbuka sedikit. Ibu menganggukan kepala padaku sambil menatap bibirku. Aku mengerti maksud ibu, aku buka mulutku lebar-lebar, ibu mengeluarkan ludahnya perlahan. Air liur ibu yang kental dengan cairan yang berbusa perlahan tertangkap oleh lidahku yang terjulur.
Selama itu selangkangan kami terus bertumbukkan dengan cepat dan mengeluarkan suara benturan yang keras. Setelah semua ludah ibu jatuh ke lidahku, aku mengulum air liur itu beberapa saat.
"Nikmati ludah ibu, Met.... Ssshhhhhh" kata ibu di antara desahan dan erangannya,"kamu emang anak yang punya otak kotor. Dari SD kamu udah masturbasi pake celana dalam ibu. Pake di bawah ke kamar ibu."
Aku agak kaget bahwa ternyata dari dulu ia sudah tahu bahwa aku terobsesi dengan dia.
"Ibu pertama kali tahu sebenarnya marah,"kata ibu lagi masih di antara desahan dan erangan."tapi ga lama ibu pikir kamu sudah mulai dewasa. Kamu punya keinginan seksual sebenarnya lumrah bagi manusia. Ibu tadinya mau melarang kamu, tapi ibu sendiri merasa bahwa selama hidup ibu, ibu menahan gejolak seksual dan ibu tidak bahagia. Maka ibu memutuskan untuk membiarkan kamu merusakkan celana dalam ibu dengan aktivitas kamu.
"namun akhir-akhir ini, ibu jadi penasaran, maka ibu coba ambil celana dalam ibu yang baru kamu kembalikan ke keranjang. Ibu lihat bagian selangkangannya penuh lendir peju kamu. Bagian selangkangan itu sudah keras, tanda sudah kamu semprot dengan mani kamu berkali-kali. Banyak sekali peju kamu dan wanginya sungguh jantan. Beda sekali dengan peju ayahmu yang sedikit dan baunya ga enak.
"lama-lama ibu juga jadi sering masturbasi sambil mengendusi celana dalam ibu yang penuh peju kamu. Baru minggu lalu ibu coba jilat, dan ternyata ibu tidak jijik. Bahkan nikmat banget. Ibu jadi ketagihan sperma kamu. Hanya saja, ibu ga akan mau memulai sesuatu yang tabu seperti ini. Jadi semuanya ibu simpan saja dalam hati."
Aku memperhatikan wajah ibu yang menunjukkan birahi, namun juga, memperlihatkan wajah sedih. Ibu sedang berusaha menjelaskan kenapa ia mau aku gauli. Ia sedang berusaha membuatku mengerti. Lucunya kami berdua tetap mengentot dengan irama yang sama sepanjang monologue yang ibu ucapkan.
"ibu tahu kamu sering bolak-balik kamar mandi pura-pura mau buang air besar hanya untuk melihat sedikit tubuh telanjang ibu yang terbalut handuk. Ibu dari dulu sudah merasa tersanjung bahwa bahkan anak kecil suka melihat tubuh ibu. Walaupun anak kecil itu adalah anak ibu sendiri. Melihat bahwa ada manusia, selain suami ibu yang menginginkan ibu secara seksual, membuat ibu bahagia.
"tetapi waktu pertama kamu lihat ibu telanjang bulat, ibu berani sumpah ibu tidak sengaja. Ibu sedang membayangkan bau peju kamu ketika ibu mengambil handuk untuk melap badan ibu, sehingga ibu tidak sadar dan menjatuhkan handuk itu. Ibu pada mulanya ingin memanggil kamu untuk minta diambilkan handuk, tapi entah kenapa ibu langsung sikat gigi. Ibu tahu kamu selalu menunggu di depan pintu kamar mandi menunggu suara ibu gosok gigi. Ada perasaan aneh yang menguasai ibu ketika ibu membayangkan kamu buka pintu mendapatkan ibu tidak memakai handuk, bahwa ibu sedang gosok gigi dengan telanjang bulat. Ibu merasa senang sekali ketika membayangkan ini semua.
"dan kamu memang langsung buka pintu. Beberapa kali ibu lirik kamu namun kamu tidak tahu, karena kamu terlalu fokus melihat tetek dan jembut ibu. Perasaan aneh yang membuat ibu senang itu bertambah berlipat-lipat. Bahkan ayah kamu sendiri tak pernah melihat tubuh telanjang ibu dengan pandangan penuh nafsu dan cinta seperti kamu. Ibu ga tahu kenapa ini semua terjadi."
Penjelasan ibu di tengah persenggamaan kami entah kenapa membuat nafsuku menjadi makin liar dan beringas. Memek ibu kutusuk-tusuk dengan begitu kerasnya, namun ibu tidak terlihat kesakitan, malah ia juga membalas dengan dorongan keras dari pantatnya. Memek sempit ibu walaupun masih sempit, tapi sudah banjir cairan pelumas serasa mengeluarkan hawa panas dalam kelicinannya.
"ketika kamu bilang kamu cinta pada ibu. Ibu langsung mengetahuinya. Ibu mengetahui mengapa ibu memiliki perasaan aneh saat kamu memandang ibu dengan penuh birahi. Ibu menjadi takut untuk sebentar. Itu karena ibu baru menyadari bahwa perasaan aneh yang ibu alami itu adalah perasaan cinta. Suatu cinta yang aneh yang belum pernah ibu rasakan sebelumnya. Cinta yang luas sekali. Ibu cinta kamu sebagai seorang ibu kepada anak, tetapi ditambahkan juga dengan cinta seorang perempuan kepada seorang lelaki, itulah mengapa ibu pertama-tama sulit mengetahui perasaan apakah yang ibu rasakan ini. Ibu mencintai kamu sebagai ibu yang mengasihi anaknya dan rela untuk menyerahkan segalanya kepada anaknya, termasuk kemaluan ibu.
"ibu juga cinta padamu, anakku."
Pada saat itu sejenak dua tubuh kami terdiam dan kedua mata kami bertatapan lekat-lekat. Kulihat sinar takut yang bercampur birahi di mata ibu. Sebelumnya aku hanya menebak-nebak saja apa pikiran ibu, namun dari penjelasan ibu barusan, aku baru mengerti. Ibu mencintaiku. Cinta seorang ibu kepada anak. Cinta seorang isteri kepada suami. Cinta dalam arti kata yang paling mendasar. Suatu pengorbanan yang dipersembahkan kepada sesuatu yang dicintainya. Cinta sejati. Cinta Sejati Ibu dan Anak.
cerita dewasa 2015
cerita dewasa 2015
Bagaikan dua orang yang memiliki satu otak yang sama, ibuku dan aku dalam waktu berbarengan merasakan suatu rasa cinta yang meluap-luap kepada satu sama lain. Kami baru menyadari bahwa kami memiliki cinta yang sama. Suatu pemahaman yang hanya dapat dibagi dan dirasakan oleh pasangan soulmate. Suatu komunikasi dan pengertian tanpa kata-kata.
Dari pemahaman telepati itu, kami berdua berbarengan juga mulai saling mengentot dengan intensitas yang tinggi. Kami saling mencucukkan kelamin kami secara cepat dan kencang sehingga berkali-kali tubuh kami berbenturan keras di selangkangan. Pelukan kami berdua bertambah ketatnya, sampai-sampai aku kadang merasa sesak. Namun kami berdua tak peduli. Kami sedikit lagi mencapai tujuan penyatuan tubuh kami, sedikit lagi mendaki gunung kenikmatan, sedikit lagi mengalami klimaks percintaan kami yang penuh asmara tabu.
"entot ibu keras-keras! Tusuk memek ibumu kencang-kencang, meeeeeetttt!!! Ibu sudah mau sampaiiiiiiii!!!!!"
"Memet mau sampai juga, buuuu!!!! Memek ibu nikmaaaat......... Sempit dan panas........ Wangi dan liciiiinnnnn!!!!!"
"gagahi ibu kuat-kuat, yaaaangg....... Anakku sayaaanggg........ Anak kandungku mengentoti aku......... Entot ibumu naaaaakkkkk....... Semprot rahim ibu dengan pejumu.... Jadikan ibu betinamuuuuuuuu!!!!!"
"tubuh ibu nikmaaaaaaaattt......... Memeknya rapet dan wangiiiiii....... Aku akhirnya bisa ngentotin ibuku yang seksi dan cantiiiikk...... Akhirnya Memet bisa ngentotin ibuuuuuuu........"
Dalam balutan nafsu badaniah dan terbungkus asmara yang tabu, kami berdua, dua insan sedarah, akhirnya dapat mencapai sebuah puncak kenikmatan yang sangat tabu, namun terasa sangat benar. Sudah menjadi takdir bahwa aku mengambil keperawanan ibuku sendiri. Sudah menjadi takdir bahwa akhirnya hidup ibu yang penuh dengan usaha menahan nafsunya, kini menjadi suatu kebahagiaan dengan mengumbar nafsu itu dengan anaknya sendiri. Dalam teriakan penuh kebahagiaan dan pelepasan nafsu birahi yang terpupuk dan berusaha dipendam selama dua tahun ini, aku dan ibuku mencapai orgasme.
Saat spermaku mulai kutembak keluar dari kontolku, selintas aku berharap ibu dapat aku hamili, namun aku tahu bahwa ibu memakai kontrasepsi. Tetapi pada saat itu aku berjanji bahwa aku harus bisa menghamili ibuku nanti. Kami berpelukan erat-erat seakan bila pegangan kami mengendur, kenikmatan itu tak akan dapat tercapai. Tubuh basah ibu yang kenyal dan halus adalah bagian dari tubuhku, seperti halnya memek ibu adalah bagian dari kontolku, seperti pula lidahnya yang adalah bagian dari lidahku. Ibu dan aku bersatu selama berapa saat, kulit ke kulit, kelamin ke kelamin dan mulut ke mulut.
Setelah segenap spermaku mengisi rahimnya dan setelah dinding memek ibu kejang-kejang begitu keras bagaikan gempa setempat, pelukan ibu mengendur, tangan kanannya diangkat ke atas sehingga bersandar di sofa sementara tangan kiri tetap memelukku. Ibu memejamkan mata, mulutnya membuka untuk membantu pernafasannya yang memburu, tenaganya tampak habis dalam persetubuhan kami. PENUTUP
Berhubung kontolku besar, ketika ejakulasi dan mengecil kontol itu tidak keluar dari memek ibu. Aku melihat ketiak kanan ibu terbuka, seluruh ketiaknya mengkilat basah dan bulu keteknya bagai baru disiram air, basah dan mengeluarkan bau tubuh ibu yang memabukkan kepalaku. Perlahan kontolku mengeras. Aku mulai menjilat ketiak ibu dari dasar bawah menuju ke atas ke lengannya, sepanjang jalan bulu ketek ibu menggelitik lidahku. Ketek ibu asin namun aku suka asinnya tubuh ibu, bau tubuh ibu yang campuran sedikit bau asem namun entah kenapa ada bau yang mengingatkan aku kepada Mie Ayam, membuat kontolku akhirnya mengeras lagi setelah lidahku beberapa menit asyik menambahkan ludahku sebagai cairan yang memandikan ketiak ibuku itu. Aku mulai menggoyang kontolku lagi di dalam memek ibu.
"Met," bisik ibuku. Aku baru sadar bahwa ia telah membuka mata dan menatapku sambil tersenyum. Katanya lagi masih dengan berbisik,"memek ibu ngilu banget. Ibu capek. Besok aja yah ngentotin ibu lagi?"
Aku sebenarnya ga mau berhenti, tetapi kulihat wajah perempuan yang kucintai itu dihiasi kelelahan yang tampak tak tertahankan. Aku jadi kasihan. Perlahan aku keluarkan penisku dari lubangnya yang sempit. Ibu mendesah karena ngilu digesek kontolku yang besar itu. Ibu berterima kasih setelah seluruh kontolku keluar, namun ia tidak beranjak dari situ dan tampaknya berencana untuk tidur di sofa.
Tangan kirinya diangkat juga ke atas untuk bersandar di sofa, sehingga kedua keteknya terpampang jelas. Aku tak peduli lagi apakah ibu akan marah, aku berlutut di lantai di hadapan ibu, lalu menyerang ketiak kanan ibu yang baru terbuka itu. Kini jilatanku bagaikan anjing yang sedang menghabiskan sisa-sisa susu di dalam piring. Terkadang bulu ketiak yang keriting itu aku kecap dan hisap, bagaikan sedang menghisap permen. Bagiku ketek ibu memang permen yang bikin aku ketagihan.
Kuambil celana dalam ibu di lantai lalu mengocok penisku lagi. Aku masih muda, staminaku masih tinggi sekali, dan satu kali ejakulasi tidak pernah cukup bagiku. Bau tubuh ibu yang kini sudah tertanam dalam ingatanku dan juga rasa asin tubuh ibu yang dirasa lidahku sudah cukup bagiku sebagai stimulan. Hanya saja setiap kali masturbasi, aku agak lama untuk dapat ejakulasi. Bahkan tadi ketika mengentot ibu pertama kali, aku dapat ejakulasi berbareng ibu, sebenarnya kalau aku remaja normal aku sudah ejakulasi dari awal-awal persetubuhan. Namun, aku sudah sering melakukan pijatan untuk membesarkan kelamin, sehingga sebenarnya adalah latihan baik untuk stamina persanggamaan selain untuk pembesaran ukurannya.
Setelah lima menit aku jilati ketiak kanan ibu, aku beralih ketiak ibu yang sebelah lagi, dan terus-menerus aku jilati kedua ketiak ibu. Lima belas menit lewat, aku tidak merasakan klimaksku mendekat, namun ketiak ibu itu begitu indahnya sehingga kontolku cenat-cenut ketika mataku menatapinya. Tak sadar, tanganku membimbing kontolku dan mulai menggosok ketiak basah ibu itu dengan kepala kontolku.
Sensasi kepala kontol menggesek bulu-bulu ketiak ibu sungguh tak bisa dilukiskan. Bulu ketiak ibu yang basah menggelitik kontolku, sementara kehangatan ketiak ibu memberikan suatu kenyamanan bagi kontolku. Terkadang aku berhenti menggosok ketiak kanan ibu dengan kontolku, agar mulutku bisa menghisapi bulu ketiak kiri ibuku sementara tangan kananku yang masih menggenggam celana dalam ibu kembali masturbasi.
"enak ya bau badan ibu? Kayaknya kamu doyan banget sama ketek ibu." kata ibu perlahan. Ia telah membuka matanya sedikit, katanya lagi,"kamu boleh deh ngentotin ibu lagi malam ini. Tapi satu kali aja sambil kamu ciumin ketek ibu. Ibu sekarang ga bisa memberikan perlawanan, karena benar-benar capek. Ibu janji lain kali ibu akan membalas cumbuan kamu."
Aku segera memposisikan badanku di atas badan ibu, ibu mengangkat kakinya, dalam waktu cepat kontolku telah menempel di lubang memeknya yang kini ternyata basah lagi. Ternyata ibu horny lagi setelah keteknya kulumati dengan nafsu. Kini dalam satu gerakan cepat dan luwes, batang kontolku amblas hingga sebagian kontolku menerobos rahim ibu.
Ibu menatapku sayu, kedua ketiaknya terbuka. Aku menjilati ketiak kanannya yang tadi kugesek dengan kontolku. Bau memek ibu mempertegas aroma tubuh yang keluar dari ketiaknya, karena kontolku memang tadi lama sekali masuk dan mengobrak-abrik memeknya. Sehingga kini bau memek dan cairan sisa vagina ibu ikut menempel di ketiaknya itu.
Tubuh ibu memang lemas, ibu hanya terdiam saja ketika aku mulai mengentot-entot ibu dengan keras. Tidak ada perlawanan cumbuan dari ibu. Ibu hanya menggigit bibirnya dan memejamkan mata dengan alis mengkerut. Sementara, kontolku menggagahi memek sempit ibu lagi, mulutku seakan tak puas berhenti menjilati ketiak ibuku yang seksi. Kadang aku melumat yang kiri, kanan aku selomoti yang kanan. Tahu-tahu lima menit kemudian kaki ibu mengikatku dengan tumit menekan pantatku dan kedua tangannya memeluk ku erat-erat, ibu mencium bibirku dan menghisap lidahku dalam-dalam.
Kurasakan dinding kemaluan ibu bergetar seperti kejang lagi dan cairan memeknya membanjir mengeluarkan cairan hangat. Aku hampir sampai ketika kurasakan dinding memek ibu meremas-remas kontolku dengan kuat. Namun sebelum aku sampai, ibu sudah berbaring lagi dengan tubuh yang lemas. Aku frustasi, sedikit lagi aku akan sampai, ku tarik kedua tangannya ke atas dan kulihat ketiak ibu yang seksi dan berbulu dan berbau. Baru melihat saja kontolku mulai cenat-cenut. Mendapatkan ide, aku segera mencabut kontolku dan sambil memegang lengan kanan ibu dengan tangan kiriku dan memegang payudara kanan ibu dengan tangan kananku aku menggesek-gesek lagi kontolku di ketiak ibu.
Sensasinya kurang mantap, tapi aku sedikit lagi akan sampai. Setelah berpikir sebentar apa yang harus aku lakukan, aku mendorong tubuh ibu agar tidurnya menyamping bertumpu di tangan kiri. Ibu yang lemas hanya menurut. Lalu aku menaruh batangku di ketiak ibu yang masih terbuka, lalu dengan tangan kiri, aku tutup lengannya, sehingga kini kontolku dijepit lengan dan tubuh samping kanan ibu, bersarang di ketiaknya.

cerita dewasa 2015
cerita dewasa 2015
Dengan kedua tanganku memegangi lengan kanan ibu, aku mulai memaju mundurkan kontolku yang dijepit lengan dan tubuh ibu. Sensasi bulu ketiak ibu yang terasa kala aku mengentoti ketek ibu yang tertutup itu menambahkan sensasi seksualku ke level yang lebih tinggi lagi. Kontolku yang bermandikan cairan kewanitaan ibu membuat sodokan-sodokan kontolku yang menggeseki ketiak ibu menjadi lancar, apalagi dibantu keringat ibu dan ludahku yang sudah lama membasahi bagian tubuh itu.
Akhirnya aku merasakan kenikmatan itu. Sebelum aku ejakulasi, aku pentangkan lengan ibu lagi sehingga aku dapat melihat ketiak seksi ibu. Sambil dibantu tangan kananku, aku mengarahkan kontolku ke tengah ketiak ibu. Kontolku memuntahkan sperma tepat di bulu ketiak ibu. Gumpalan demi gumpalan peju yang tebal kutembakkan dari dalam penisku ke ketiak ibu. Dua semprotan pertama melumuri ketiak kanannya, gumpalan ke dual jatuh di dada atas ibu dan terkena lehernya juga karena saat itu aku sedang bergerak ke ketek kiri ibu. Gumpalan gumpalan terakhir aku persembahkan pada bulu ketiak ibu yang kiri itu.
Dengan tubuh lemas dan rasa yang sangat puas. Aku pandangi tubuh seksi ibuku yang tertidur tanpa tertutup apapun kecuali beberapa genangan spermaku yang kental. Hari itu, tak pernah terlupakan sepanjang hidupku. Hari di mana aku menjadi seorang laki-laki. Hari di mana ibu menjadi seorang perempuan seutuhnya dengan merelakan selaput daranya kepadaku.

Baca juga cerita ngentot ABG Ngentot Tante Girang. tags: cerita dewasa 2015 terbaru

Cerita Dewasa 2015 Cinta Sejati Ibu dan Anak, Lainnya

Cerita Dewasa 2015 Cinta Sejati Ibu dan Anak
4/ 5
Oleh

2 comments